• IIQ An Nur Yogyakarta mewisuda 167 sarjana pada Wisuda ke-18 yang dirangkaikan dengan Harlah ke-24, dengan 145 wisudawan meraih predikat cumlaude, 25 hafiz/hafizah 30 juz, dan 11 menguasai qiraah sab’ah.
• Rektor IIQ An Nur Yogyakarta tekankan Quranic soft skills karena hal yang tidak dimiliki AI adalah hati nurani dan akhlaqul karimah.
BANTUL, NUR.ac.id—Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta sukses menggelar wisuda ke-18 jenjang Sarjana Strata Satu (S1), pada Sabtu (14/09/2026). Prosesi wisuda yang berlangsung di halaman kampus setempat itu juga dibarengi dengan peringatan Harlah ke-24 IIQ An Nur Yogyakarta.
Kegiatan itu turut dihadiri Dzurriyah Al Ma’had An Nur, Bupati Bantul, PWNU DIY, Pemda Bantul, jajaran TNI dan Polri, Kopertais III DIY melalui Forkom, dan berbagai pimpinan perwakilan kampus PTKIS di Yogyakarta.
Dari total 167 wisudawan, setidaknya 145 wisudawan menyandang predikat Cumlaude, 25 predikat hafiz/hafizah (penghafal Al Qur’an) 30 juz dan 11 dengan qiraat sab’ah.
Rektor IIQ An Nur Yogyakarta, Dr. Ahmad Sihabul Millah, M.A., dalam sambutannya menegaskan, bahwa wisuda merupakan pintu gerbang menuju perjalanan baru yang lebih luas, penuh tantangan, dan penuh harapan. Maka konsep Quranic Soft Skills menjadi penting untuk dikembangkan.
”Kita hidup pada transisi besar dalam sejarah umat manusia. Teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI) berkembang jauh lebih cepat dari yang dipikirkan. Maka jika kita mengandalkan kecerdasan dan kepintaran, tentu AI lebih dari itu. Yang tidak ada dalam AI adalah hati nurani dan akhlaqul karimah. Titik inilah Quranic Soft Skills diperlukan melalui kerja istiqamah (konsistensi), tawadlu’ (rendah hati), komunikatif-kolaboratif, dan menebar manfaat bagi kehidupan manusia,” tegas Sihab.
Dalam sesi sambutan Yayasan Al Ma’had An Nur, KH. Muslim Nawawi selaku ketua memberikan penyemangat bahwa Kampus IIQ An Nur mungkin sebagian menganggap kampus sederhana, tetapi keberkahannya bisa dirasakan banyak orang karena pendirinya. Ini telah dibuktikan para alumninya yang telah berkiprah di seluruh pelosok Indonesia. Maka dari itu, ia memberikan peringatan kepada wisudawan agar tidak puas atas capaian hari ini.
”Bersyukur wajib, tapi jangan sampai kalian puas. Jika kalian merasa puas, maka berhenti. Jika berhenti, maka dipastikan tertinggal dengan yang lainnya. Maka silakan diteruskan studinya sampai di jenjang tertinggi,” ucap beliau.
Selanjutnya adalah orasi ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Euis Nurlaelawati, Ph.D., guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam paparannya, ia menyampaikan pentingnya bermimpi dan terus melakukan yang terbaik dalam setiap fase kehidupan.
Euis menceritakan bagaimana perjalanan hidupnya mulai dari tingkat dasar sampai sekolah menengah atas yang dilalui dengan belajar di pesantren.
”Semua ilmu yang kita rawat harus jadi jalan untuk kemaslahatan. Semua pengetahuan yang kita produksi harus tidak menjauh dari manusia. Semoga seluruh kerja keilmuan kita menjadi bagian pengabdian kita kepada Allah Swt dan kemanusiaan,” ungkap Euis. []