Kemenag RI Lakukan Monev KIP Kuliah di IIQ An Nur Yogyakarta, Warek III: Kami Adakan Evaluasi Setip Bulan

WhatsApp Image 2025 12 30 at 14.43.17 - Kemenag RI Lakukan Monev KIP Kuliah di IIQ An Nur Yogyakarta, Warek III: Kami Adakan Evaluasi Setip Bulan

Bantul, 30 Desember 2025— Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah di Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta, Selasa (30/12/2025).

Kegiatan monev ini diwakili oleh Fitria Eka Purwanti selaku pemonitor dari Kemenag RI. Kedatangannya disambut di Gedung Pascasarjana Lantai II oleh Rektor IIQ An Nur Yogyakarta Dr. Ahmad Sihabul Millah, M.A., Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Dr. Khoirun Niat, M.A., serta Kepala Subbagian Kemahasiswaan Bagus Mahardika, M.A.

Fitria menjelaskan bahwa monev dilakukan untuk memastikan pelaksanaan KIP Kuliah berjalan sesuai ketentuan.

“Kedatangan kami ke sini untuk memonitor secara langsung. Sebenarnya, laporan soft file sudah cukup karena monev KIP Kuliah berbasis data, tetapi terkadang data di atas kertas tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi riil di lapangan,” tegasnya.

Dalam sesi evaluasi, Fitria mengajukan sejumlah pertanyaan terkait mekanisme penyaluran dan pemanfaatan dana KIP Kuliah. Salah satu fokusnya adalah memastikan bahwa bantuan tersebut tepat sasaran.

BACA JUGA:
Pembina Mahasiswa KIP Kuliah: Pengabdian ke Lembaga IIQ An Nur Yogyakarta Digantikan oleh Mahasiswa Semester 2
Gelar Sosialisasi dan Arahan untuk Mahasiswa KIP Kuliah Angkatan 2023, Khoirun Niat: Tugas Anda Hanya Belajar
Rutinan Akhir Bulan Mahasiswa KIP, Niat: Promosikan PSB Asrama Tahfidz Al-Barakah
PENYALURAN DANA KIP DIPASTIKAN SESUAI KETENTUAN

“Ada beberapa kasus di tempat lain, dana KIP Kuliah yang sudah cair justru tidak digunakan untuk membayar SPP, melainkan dikirimkan kepada keluarga mahasiswa di rumah. Akibatnya, pembayaran SPP menjadi bermasalah,” jelas Fitria.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor III menegaskan bahwa penyaluran KIP Kuliah di IIQ An Nur Yogyakarta berjalan sesuai aturan.

“Dana KIP Kuliah yang cair langsung diarahkan untuk pembayaran SPP. Sejak IIQ An Nur menerima kuota KIP Kuliah, hanya satu mahasiswa angkatan 2023 yang terpaksa diganti karena tidak disiplin,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Bagus. Ia menyatakan bahwa seleksi penerima KIP dilakukan secara ketat.

“Kami memastikan mahasiswa KIP benar-benar berasal dari keluarga kurang mampu. Selain memiliki kartu KIP, kami juga melakukan verifikasi lapangan, baik melalui video call maupun kunjungan langsung ke rumah. Bahkan, ada tahapan wawancara untuk memastikan kelayakan,” jelasnya.

Bagus juga menyampaikan bahwa secara akademik, mahasiswa penerima KIP di IIQ An Nur Yogyakarta memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang baik.

“Rata-rata IPK mereka di atas 3,0. Jika ada yang berada di batas minimal, kami lakukan pembinaan intensif. Namun, apabila mahasiswa tidak menunjukkan kesungguhan belajar dan IPK di bawah ketentuan maka akan kami usulkan penghentian beasiswanya,” tegasnya.

Terkait pembinaan mahasiswa, pihak kampus mengungkapkan bahwa mahasiswa KIP dilibatkan dalam berbagai kegiatan pengembangan diri. Di antaranya magang di perpustakaan dan jurnal kampus, bergabung dalam grup hadrah, tilawah, tahfidz al-Qur’an, pelatihan keterampilan, hingga membantu tim multimedia kampus.

“Kami juga menyediakan asrama khusus mahasiswa KIP, yakni Rumah Tahfidz Al Barokah. Alhamdulillah, beberapa mahasiswa sudah berhasil menghafal al-Qur’an,” ujar Niat.

“Tidak hanya itu, kami juga mengadakan monev sebulan sekali yang mengumpulkan semua mahasiswa KIP lintas angkatan. Di situ, kami memonitor dan mengevaluasi semua hal terkait perkembangan mahasiswa KIP,” tambahnya.

TRACER STUDY MASIH JADI TANTANGAN

Dalam sesi berikutnya, Fitria menyoroti pentingnya tracer study untuk mengetahui keberlanjutan lulusan penerima KIP Kuliah. Ia menanyakan sejauh mana pelaksanaannya di IIQ An Nur Yogyakarta.

Menanggapi hal tersebut, Bagus mengakui bahwa tracer study masih menjadi tantangan bagi pihaknya.

“Kendala utama adalah sulitnya menghubungi alumni setelah lulus, serta adanya perbedaan sistem antara tracer study KIP dan tracer study fakultas,” jelasnya.

Meski demikian, pihak kampus tetap berupaya membantu lulusan KIP dengan mencarikan peluang beasiswa lanjut studi maupun akses pekerjaan.

“Sebelum lulus, kami berusaha mencarikan beasiswa S-2 bagi mereka yang berminat,” tambah Bagus.

Fitria menegaskan bahwa tracer study sangat penting untuk mengukur keberhasilan program KIP Kuliah.

“Kami ingin mengetahui kontribusi lulusan KIP bagi negara setelah lulus. Apakah mereka melanjutkan studi, bekerja, dan apakah pekerjaannya sesuai dengan bidang studi. Bahkan, perlu dilihat apakah penghasilannya sudah sesuai UMR atau belum. Jika memungkinkan, mahasiswa KIP diarahkan untuk magang, melanjutkan studi, atau difasilitasi mendapatkan pekerjaan yang relevan,” pungkasnya. [MAF].