Bantul, 04 Juni 2026—Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan “Pembekalan Pengelola IIQ An Nur Yogyakarta Periode 2025–2029” di Gedung Auditorium IIQ An Nur Yogyakarta, Kamis (04/06/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren An Nur Ngrukem, pengurus Yayasan Al Ma’had An Nur, pimpinan IIQ An Nur Yogyakarta, serta jajaran pengelola periode 2025–2029 yang telah dilantik sehari sebelumnya, Rabu (03/06/2026).
Pengasuh Pondok Pesantren An Nur Ngrukem, KH Yasin Nawawi, berharap pembekalan tersebut dapat memperkuat kapasitas kepemimpinan dan tata kelola institusi para pengelola yang baru dilantik.
“Dengan adanya pembekalan yang akan disampaikan oleh Prof. Hamam ini, semoga dapat semakin meningkatkan mutu akademik dan kompetensi sumber daya manusia pengelola IIQ An Nur,” dawuhnya.
Kegiatan pembekalan menghadirkan Prof. Dr. H. Hamam Hadi, M.S., Sc.D., Sp.GK., Rektor Universitas Alma Ata, sebagai narasumber. Kedekatan antara IIQ An Nur Yogyakarta dan Universitas Alma Ata telah terjalin sejak lama. Bahkan, menurut Ketua Yayasan Al Ma’had An Nur, KH Muslim Nawawi, pada masa awal perkembangannya Universitas Alma Ata pernah belajar dari STIQ An Nur Yogyakarta yang kini menjadi IIQ An Nur Yogyakarta.
Meski demikian, perkembangan Universitas Alma Ata dalam beberapa tahun terakhir dinilai sangat pesat dan dapat menjadi inspirasi bagi IIQ An Nur Yogyakarta.
“Alma Ata dulu belajar dari kita ketika masih STIQ An Nur. Jika Alma Ata bisa berkembang sedemikian rupa, masa kita tidak bisa?” ujar KH Muslim Nawawi.
Dalam sesi pembekalan, Hamam menyampaikan materi berjudul “Tata Kelola Kampus Unggul dan Berdaya Saing”. Ia menyatakan bahwa membangun identitas dan keunggulan institusi di tengah persaingan pendidikan tinggi yang semakin kompetitif.
Menurutnya, perguruan tinggi yang mampu bertahan dan berkembang bukan hanya yang memiliki ukuran besar, melainkan yang mempunyai karakter kuat dan menawarkan nilai tambah yang jelas bagi masyarakat.
“Perguruan tinggi yang mampu bertahan dan berkembang adalah yang memiliki identitas kuat serta menawarkan nilai tambah yang jelas bagi masyarakat,” ujarnya.
Hamam menilai bahwa banyak perguruan tinggi Islam masih berfokus pada capaian administratif, seperti akreditasi, peningkatan jumlah mahasiswa, dan pembukaan program studi baru. Meskipun penting, indikator tersebut belum tentu menjadi penentu utama keberlanjutan institusi dalam jangka panjang.
“Fondasi yang lebih penting adalah identitas akademik yang jelas sehingga kampus memiliki posisi dan reputasi yang kuat di tengah persaingan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mendorong setiap perguruan tinggi untuk menentukan bidang unggulan yang menjadi fokus pengembangannya. Menurutnya, tidak semua institusi harus unggul dalam seluruh bidang ilmu. Sebaliknya, kampus perlu mengenali potensi yang dimiliki dan mengembangkannya secara optimal sesuai kebutuhan masyarakat serta tantangan zaman.
Selain itu, Hamam mengajak perguruan tinggi untuk memperluas perannya, tidak hanya sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pusat inovasi yang mampu menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat. Ia menegaskan bahwa keberhasilan kampus saat ini tidak lagi diukur semata dari jumlah lulusan yang dihasilkan, melainkan dari kontribusi nyata yang diberikan bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan keagamaan masyarakat.
Karena itu, penguatan budaya riset menjadi agenda penting yang harus terus didorong. Menurutnya, hasil penelitian tidak boleh berhenti pada publikasi akademik semata, tetapi perlu dihilirisasikan agar memberikan manfaat yang lebih luas, baik dalam bentuk rekomendasi kebijakan, program pemberdayaan masyarakat, inovasi teknologi, maupun produk yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh publik. []