Bantul, 28 Januari 2026—Gebyar Tafsir Al Qur’an Hadis (GTH) ke-V Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta menghadirkan novelis ternama Habiburrahman El Shirazy dalam seminar bertajuk “Al-Qur’an dan Hadis sebagai Fondasi Karakter di Era Budaya Digital”, Rabu (28/01/2026). Seminar yang digelar di auditorium kampus tersebut juga menghadirkan peneliti sekaligus pendiri Contradixie, Muhammad Saifullah, M.A.
GTH merupakan agenda tahunan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin (DEMA FU) IIQ An Nur Yogyakarta dan tahun ini memasuki penyelenggaraan kelima. Dengan Imam Tunisi sebagai ketua panitia, rangkaian kegiatan GTH V dilaksanakan selama dua hari, mulai Rabu hingga Kamis (28–29/01/2026).
Ketua DEMA FU, Reinaldy Dwi Mauladi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia serta pihak-pihak yang telah mendukung terselenggaranya GTH V.
“GTH tahun ini luar biasa. Ada beberapa lomba yang diikuti oleh 180 mahasiswa dan santri se-DIY dan Jawa Tengah, dan terpilih 100 orang finalis,” ungkap Reinaldy.
Ia juga mengapresiasi kehadiran Habiburrahman El Shirazy—akrab disapa Kang Abik—yang dinilai mampu meningkatkan antusiasme peserta.
“Terima kasih kepada Kang Abik yang telah berkenan hadir dan datang jauh-jauh ke tempat kami,” tambahnya.
Media Sosial dan Spirit Al-Qur’an
Dalam pemaparannya, Kang Abik mengawali dengan mengutip QS. Al-Isra’ [17]: 9 yang menegaskan bahwa Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus. Menurutnya, spirit Al-Qur’an senantiasa relevan dalam segala zaman dan kondisi.
“Spirit Al-Qur’an sebagai jalan yang lebih baik ini perlu kita hidupkan di mana pun, termasuk di media sosial, tentu dengan cara yang sesuai dengan tren zaman,” ujar Kang Abik.
Ia menuturkan pengalamannya saat menulis novel Ayat Ayat Cinta (AAC). Pada masa itu, dunia sastra Indonesia ramai dengan novel-novel bernuansa pornografi yang ditulis oleh sastrawan ternama. Melalui AAC, Kang Abik mencoba menawarkan alternatif.
“Orang mengira novel saya hanya novel romantis. Padahal, cinta romantis itu lapisan luar. Intinya adalah perasan spirit Al-Qur’an,” tegasnya.
Kesuksesan AAC, lanjutnya, tidak terlepas dari strategi mengemas nilai-nilai Al-Qur’an dalam sastra yang sesuai dengan perkembangan zaman dan selera masyarakat. Karena itu, ia mendorong para santri dan mahasiswa untuk menjadikan Al-Qur’an “berbicara” di media sosial sebagai basis budaya digital.
“Kita perlu memahami strategi agar konten bisa viral dan menjadi standar etika digital, tentu tanpa harus melakukan hal-hal yang tidak wajar,” ujarnya.
“Media sosial bisa diberi napas Qur’ani jika kita inovatif dan mampu mengadaptasikan Al-Qur’an dengan suara zaman sekarang,” tutur Kang Abik.
Agama dan Media Baru
Sementara itu, Saifullah membuka paparannya dengan mengutip pemikiran Marshall McLuhan, “The medium is the message.” Kalimat ini, menurutnya, hendak menyatakan bahwa pada era media sosial saat ini, medium (TikTok, Instagram, dll) lebih penting daripada konten itu sendiri karena medium sudah merupakan message (pesan) itu sendiri.
“Ketika kita membuka TikTok, misalnya, pesan utamanya bukan lagi isi kontennya, tetapi eksistensi si pembuat konten,” jelas Saifullah.
Ia menambahkan bahwa media sosial melahirkan dua hal krusial dalam kehidupan keagamaan, yakni otoritas dan praktik baru. Otoritas keagamaan yang dahulu lahir dari proses panjang keilmuan kini bergeser karena media sosial memungkinkan siapa pun merebut otoritas melalui engagement.
“Standar otoritas bukan lagi kedalaman pemahaman, tetapi jumlah like, view, dan follower,” ujarnya.
Selain itu, muncul praktik-praktik keagamaan baru yang sebelumnya tidak dikenal. Misalnya, mengaji sambil bermain gim atau simaan Al-Qur’an sambil live TikTok.
“Hal-hal semacam ini merupakan fenomena ikonik di media sosial,” kata Saifullah.
Fenomena tersebut, lanjutnya, tidak lepas dari manipulasi fakta. Fakta di media sosial bukan lagi realitas, melainkan apa yang masuk for your page (FYP). Konten-konten viral dianggap fakta. Padahal, untuk membuat suatu konten viral, bisa direkayasa, dan ini butuh biaya mahal. Makna keshalihan, misalnya, pun bisa dibeli. Orang tidak perlu Tidak perlu shalih di dunia nyata, cukup tampil shalih di media sosial.
“Cukup avatarnya aja yang berjilbab dan mengaji secara live. Soal keseharian aslinya, itu tidak lagi menjadi soal dia shalih atau tidak,” tukas Saifullah. [MAF].