Santriwati Asal Jepara Jadi Wisudawati Tercepat IIQ An Nur Yogyakarta

santriwati jepara jadi wisudawati tercepat iiq an nur jogja hisniyatul muna jang 7thu1pmc - Santriwati Asal Jepara Jadi Wisudawati Tercepat IIQ An Nur Yogyakarta
  • Hisniyatul Muna Maula meraih predikat wisudawati tercepat IIQ An Nur Yogyakarta 2026 sekaligus lulus dengan predikat cumlaude.
  • Perjalanan akademiknya ditempa disiplin, doa, organisasi, dan kehidupan pesantren.

Bantul, NUR.ac.id—Perjalanan dari bilik pesantren menuju panggung wisuda tidak selalu mudah. Bagi Hisniyatul Muna Maula, perjalanan itu ditempa oleh disiplin, doa, organisasi, dan konsistensi hingga mengantarkannya meraih predikat wisudawati tercepat IIQ An Nur Yogyakarta 2026 sekaligus lulus dengan predikat cumlaude.

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Fakultas Tarbiyah, Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta, itu menjadi salah satu sosok yang mencuri perhatian dalam prosesi wisuda 2026.

Namun, bagi perempuan asal Jepara yang akrab disapa Hisni tersebut, pencapaian itu bukan sekadar tentang siapa yang paling cepat menyelesaikan studi. Di balik gelar yang diraihnya, terdapat perjalanan panjang yang dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil, dukungan keluarga, kehidupan pesantren, aktivitas organisasi, hingga perjuangan menyelesaikan tugas-tugas akademik.

Hisni lahir dari pasangan Ahmad Faishol dan Siti Rufi’atun. Sejak kecil, ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang menanamkan nilai kesabaran, kerja keras, tanggung jawab, dan doa.

Pendidikan formal ditempuhnya sejak TK Ceria, kemudian SD Negeri 3 Geneng, MTsN 1 Jepara, hingga MAN 1 Jepara. Di luar pendidikan formal, Hisni juga menjalani pendidikan keagamaan melalui TPQ Bustanul Mutaalimin, Madin Tanfirul Ghowayah, serta Pondok Pesantren Tahfidz Nurul Qur’an.

Bekal tersebut kemudian membawanya merantau ke Yogyakarta. Ia melanjutkan pendidikan tinggi sekaligus menetap di Pondok Pesantren An Nur Ngrukem.

Di lingkungan pesantren dan kampus inilah karakter Hisni semakin terbentuk. Ia belajar menjalani kehidupan akademik tanpa meninggalkan tanggung jawab sebagai santri.

Bagi Hisni, keberhasilan yang diraihnya tidak pernah berdiri sendiri. Ada peran besar kedua orang tuanya yang selalu menjadi sumber kekuatan.

“Kalau gelar ini punya nama saya, di baliknya ada dua nama yang jauh lebih dulu memperjuangkan saya: Ayah dan Ibu,” tutur Hisni haru kepada TIMES Indonesia, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, dukungan orang tua tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat panjang. Doa, perhatian, dan kalimat-kalimat sederhana justru kerap menjadi energi ketika dirinya berada dalam kondisi lelah.

“Dukungan mereka adalah alasan saya mampu bertahan. Terkadang bukan lewat nasihat panjang, melainkan lewat doa, perhatian, dan kalimat sederhana yang membuat saya kembali kuat,” ujarnya.

Kuliah, Mondok, Organisasi, hingga Menulis

Menjadi mahasiswa sekaligus santri mukim membuat Hisni harus memiliki kemampuan mengatur waktu secara disiplin.

Aktivitasnya tidak berhenti di ruang kuliah. Ia pernah dipercaya menjadi Wakil Ketua hingga Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PGMI. Ia juga mengemban amanah sebagai Koordinator Daerah (Korda) IIQ An Nur.

Di lingkungan pesantren, Hisni turut aktif dalam kepengurusan Komplek An Nisa’ sebagai sekretaris dan bendahara.

Pengalaman berorganisasi sebenarnya telah dimilikinya jauh sebelum memasuki perguruan tinggi. Hisni pernah aktif dalam organisasi kepemudaan IRMAS Masjid Quba Mansara serta komunitas peduli lingkungan GEMATI.

Di tengah kesibukan tersebut, ia juga menyalurkan gagasan dan kemampuan menulis melalui esai yang diterbitkan SABAK LPPM IIQ An Nur Yogyakarta.

Rangkaian aktivitas itu membuat kesehariannya begitu padat. Kuliah, organisasi, kegiatan pesantren, kepengurusan asrama, hingga penelitian dan penyusunan skripsi harus dijalani secara beriringan.

Tidak jarang kondisi tersebut membuatnya merasa waktu 24 jam dalam sehari belum cukup.

“Jujur, ada banyak masa ketika lelah, bingung, bahkan ingin berhenti. Tetapi dari kesibukan itulah saya belajar menentukan skala prioritas dan bertanggung jawab terhadap pilihan hidup,” ungkapnya.

Ia memilih untuk terus berjalan karena merasa setiap perjalanan yang sudah dimulai harus disertai keberanian untuk menyelesaikannya.

“Saya sudah memulai perjalanan ini, maka sebisa mungkin harus saya selesaikan,” tegas Hisni.

Wisudawati Tercepat Bukan Soal Siapa yang Paling Cepat

Predikat wisudawati tercepat yang disandang Hisni tidak membuatnya memandang pendidikan sebagai sebuah perlombaan.

Justru sebaliknya. Ia meyakini setiap mahasiswa memiliki perjalanan, tantangan, dan waktu tempuh yang berbeda.

Menurut Hisni, capaian yang diraihnya merupakan akumulasi dari konsistensi dalam melakukan berbagai hal sederhana setiap hari.

“Saya melihatnya bukan sekadar siapa yang paling cepat lulus, melainkan hasil dari banyak hal kecil yang dikerjakan terus-menerus: hadir, belajar, mengerjakan, menyelesaikan, lalu mengulanginya lagi sampai tiba di garis akhir,” katanya.

Jika kemudian dirinya mampu mencapai garis akhir lebih cepat, Hisni menganggap hal itu sebagai bonus dari proses panjang yang telah dijalani.

Pandangan tersebut terangkum dalam motto hidup yang selama ini dipegangnya:

“Tidak harus berjalan paling cepat, tetapi jangan berhenti sebelum sampai.”

Bagi Hisni, pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar. Lebih jauh dari itu, perjalanan pendidikan harus mampu membentuk pribadi yang memiliki ilmu, karakter, dan kemanfaatan bagi orang lain.

Pesan Hisni untuk Mahasiswa: Jangan Bandingkan Perjalanan

Setelah menyelesaikan perjalanan akademiknya di kampus berbasis Al-Qur’an tersebut, Hisni menyampaikan pesan kepada mahasiswa dan generasi muda yang masih menjalani proses pendidikan.

Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak dalam kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan orang lain.

Menurutnya, ada mahasiswa yang dapat menyelesaikan pendidikan lebih cepat, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang. Keduanya tetap memiliki perjalanan yang berharga.

“Bagi adik-adik mahasiswa, jangan terlalu sibuk membandingkan perjalanan kalian dengan orang lain. Ada yang sampai lebih dulu, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang, dan keduanya tetap punya cerita yang bermakna,” pesannya.

Ia meminta mahasiswa untuk menikmati setiap tahapan pendidikan, termasuk ketika harus menghadapi kegagalan, kelelahan, maupun masa-masa sulit.

“Nikmati prosesnya, jangan takut berjalan pelan, dan kalau sedang lelah, istirahat boleh—yang penting jangan pernah menyerah,” pungkasnya.

Kisah Hisniyatul Muna Maula menjadi gambaran bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari langkah besar. Ada konsistensi yang terus dijaga, doa orang tua yang menguatkan, kehidupan pesantren yang membentuk karakter, serta keberanian untuk tetap berjalan ketika perjalanan terasa berat.

Dari Jepara menuju Yogyakarta, dari bilik pesantren hingga panggung wisuda, Hisni membuktikan satu hal: kecepatan bukanlah ukuran utama sebuah keberhasilan. Yang terpenting adalah terus melangkah dan tidak berhenti sebelum mencapai tujuan. (*)