Mahasiswa PAI IIQ An Nur Yogyakarta Lakukan Ziarah Edukatif, Maghfur: Agar Tumbuh Kesadaran Historis

WhatsApp Image 2026 01 19 at 15.48.19 - Mahasiswa PAI IIQ An Nur Yogyakarta Lakukan Ziarah Edukatif, Maghfur: Agar Tumbuh Kesadaran Historis

Yogyakarta, 19 Januari 2026— Pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Pembelajaran juga dapat dilakukan di luar kelas melalui pengalaman langsung. Semangat inilah yang mendorong mahasiswa semester tiga kelas Pendidikan Agama Islam A (PAI-A) Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta melaksanakan kunjungan edukatif ke makam Ki Hajar Dewantara di Taman Wijaya Brata, Yogyakarta, Senin (19/1/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB ini merupakan bagian dari agenda pembelajaran bertema “Pengenalan Tokoh dan Literatur Pendidikan”. Agenda ini dipandu oleh Maghfur MR, M.Ag., dosen pengampu mata kuliah sosiantropologi pendidikan. Melalui pembelajaran luar kelas ini, mahasiswa diajak mengenal secara langsung sosok dan pemikiran tokoh penggerak pendidikan nasional.

Di kompleks makam Taman Wijaya Brata, mahasiswa memperoleh penjelasan dari Sarimin, juru kunci makam Ki Hajar Dewantara. Ia menuturkan bahwa Bapak Pendidikan Nasional itu sangat menjunjung tinggi nilai kemerdekaan manusia dalam pendidikan.

BACA JUGA:

KKN Posko Kapingan Adakan Islamic Motivation Training, Maghfur MR: Pendidikan adalah Investasi Masa Depan
Dorong Tradisi Ilmiah, Magister PAI IIQ An Nur Yogyakarta Hadirkan Pemateri dari Harvard University
Sosialisasikan Visi, Misi, dan Tujuan Prodi PAI, Khalim: Lulusan PAI Harus Mampu Bersaing di Kancah Global
IIQ An Nur Yogyakarta Siap Terjunkan Puluhan Calon Guru ke Beberapa Sekolah di Bantul

“Ki Hajar Dewantara sangat menghargai kemerdekaan. Jangankan manusia, burung pun beliau tidak mau memelihara karena kasihan kalau dikurung. Karena itu, beliau memilih konsep ngemong, bukan sekadar ngajari. Dulu, belum ada istilah guru; yang ada adalah pamong,” ungkap Sarimin.

Penjelasan tersebut memperkuat pemahaman mahasiswa tentang gagasan pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menempatkan pendidik sebagai pendamping pertumbuhan peserta didik. Prinsip ngemong sejalan dengan semboyan pendidikan nasional: ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani, yang menekankan keteladanan, pemberdayaan, dan pendampingan.

Mahasiswa tampak khidmat mengikuti kegiatan dengan duduk membentuk setengah lingkaran di depan makam pahlawan nasional bidang pendidikan tersebut. Di sisi makam Ki Hajar Dewantara, terdapat makam sang istri, sementara di bagian belakang terdapat makam anak pertama dan anak terakhir.

“Itu sudah menjadi wasiat beliau sebelum wafat. Istilah Jawanya ben dipangku,” tambah Sarimin.

Sementara itu, Maghfur menjelaskan bahwa kunjungan edukatif ini bertujuan menumbuhkan kesadaran historis sekaligus refleksi kritis mahasiswa terhadap perjuangan pendidikan nasional.

“Melalui kunjungan edukatif ini, kami berharap tumbuh kesadaran historis di kalangan mahasiswa. Sebab, dari kesadaran historis itulah akan lahir daya kritis dan reflektif,” tegas Maghfur.

“Ki Hajar Dewantara adalah Menteri Pendidikan pertama. Saat itu, disebut Menteri Pengajaran, pada masa Presiden Soekarno. Perjuangannya tidak mudah. Di tengah penjajahan Belanda dan keterbatasan akses pengetahuan, beliau tetap turun langsung mencerdaskan rakyat, meskipun berasal dari keluarga ningrat, cucu Pakualam III Yogyakarta,” tambahnya.

Usai dari Taman Wijaya Brata, rombongan melanjutkan kegiatan dengan penelusuran literatur pendidikan di Graha Pustaka Yogyakarta. Mahasiswa membaca dan mendiskusikan berbagai karya yang relevan dengan pemikiran pendidikan. Maghfur sebagai pemandu turut memantik refleksi mengenai relevansi gagasan Ki Hajar Dewantara dengan tantangan pendidikan masa kini. Diskusi berlangsung santai di antara mahasiswa, sementara sebagian lainnya membaca dan menelusuri koleksi buku.

“Saya membaca karya Sujiwo Tejo berjudul Lupa Endonesa,” ungkap salah satu mahasiswi PAI-A. [MAF].