- FEBI IIQ An Nur Yogyakarta menggelar studium generale bertema “Masa Depan Keuangan dan Bank Syariah di Era AI: Disrupsi, Inovasi, dan Peluang Generasi Muda” sebagai bekal bagi mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
- Mahasiswa diingatkan untuk memanfaatkan AI sebagai alat bantu tanpa kehilangan daya kritis, kompetensi pribadi, dan kemampuan memahami realitas kehidupan nyata.
BANTUL, NUR.ac.id—Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta menggelar studium generale pada Senin (5/10/2026) di Gedung Auditorium IIQ An Nur Yogyakarta. Kegiatan tersebut diikuti oleh pimpinan, dosen, pengelola, dan seluruh mahasiswa FEBI.
Mengangkat tema “Masa Depan Keuangan dan Bank Syariah di Era AI: Disrupsi, Inovasi, dan Peluang Generasi Muda”, kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta dampaknya terhadap masa depan industri keuangan dan perbankan syariah.
“Sekarang, dengan adanya AI, kita sedang menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Tidak boleh tidak, AI akan menjadi bagian dari kehidupan kita di masa depan. Tentu, hal ini akan berakibat signifikan bagi masa depan keuangan dan perbankan syariah,” ujar Dekan FEBI, M. Arif Kurniawan, S.H.I., M.E.I., dalam sambutannya.
Menurut Arif, perkembangan tersebut menuntut mahasiswa FEBI untuk memiliki wawasan yang luas mengenai AI dan dampaknya terhadap sektor keuangan dan perbankan syariah. Pemahaman tersebut penting sebagai bekal bagi mahasiswa dalam mempersiapkan profesionalisme dan kompetensi di masa depan.
Hal senada disampaikan Wakil Rektor I Bidang Akademik, Kelembagaan, Riset, dan Kemahasiswaan, Dr. Lina, M.Pd., dalam keynote speech-nya. Ia membahas pentingnya sikap kritis mahasiswa dalam memanfaatkan AI. Menurutnya, AI dapat membantu sekaligus meningkatkan kualitas pekerjaan manusia. Namun, penggunaan AI secara berlebihan juga dapat menimbulkan ketergantungan yang berpotensi melemahkan kompetensi pribadi dan daya kritis manusia.
“AI hanya pembantu, asisten. Jangan jadikan AI sebagai tuntunan pokok. Jangan sampai AI mengontrol kita. Justru sebaliknya, kitalah yang harus mengontrol AI,” tegas Lina.
Lina menambahkan, mahasiswa tidak boleh terjebak dalam arus disrupsi teknologi hingga mengorbankan kualitas diri. Kemampuan berpikir kritis, memahami konteks, dan membaca realitas kehidupan tetap menjadi kompetensi penting yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.
“AI itu mesin, dan kita tidak bisa dikontrol oleh mesin. Sebab, mesin tidak tahu realitas nyata kehidupan manusia,” lanjutnya.
Studium generale tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Direktur BPR Syariah Barokah Dana Sejahtera, Budi Nugroho, S.E., dan Direktur NU Care-LAZISNU Daerah Istimewa Yogyakarta, Edo Segara Gustanto, S.E., M.E. Adapun kegiatan dimoderatori oleh Ketua Program Studi Ekonomi Syariah FEBI IIQ An Nur Yogyakarta, Puji Solikhah, M.M. [MAF].