BANTUL, NUR.ac.id—Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta menyelenggarakan studium generale bertema “Studi Al-Qur’an dan Hadis di Era Kecerdasan Buatan: Batasan, Peluang, dan Etika Akademik” pada Kamis (29/10/2026) di Auditorium IIQ An Nur Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh sivitas akademika Fakultas Ushuluddin.
“Studium generale ini ditujukan bagi kita semua untuk mendiskusikan peluang pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sekaligus tantangan dan tanggung jawab akademik yang menyertainya dalam studi Al-Qur’an dan hadis,” ujar Dekan Fakultas Ushuluddin, Dr. Abdul Jabpar, M.Phil., dalam sambutannya.
“AI harus kita manfaatkan secara bijak. Dalam studi Al-Qur’an dan hadis, AI tidak boleh menggantikan proses membaca, menelaah, memverifikasi sumber, dan membangun argumentasi ilmiah. Kemajuan teknologi justru harus mendorong kita semakin kritis, teliti, dan bertanggung jawab dalam mengembangkan ilmu pengetahuan,” tegasnya.
Stadium generale menghadirkan Dr. Ali Imron, S.Th.I., M.Ag., Ketua Program Studi Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta Khoirul Imam, M.Ag., dosen Fakultas Ushuluddin IIQ An Nur Yogyakarta, sebagai narasumber. Diskusi dipandu oleh Qowim Musthofa, M.Hum., Ketua Program Studi Ilmu Hadis (ILHA) Fakultas Ushuluddin.
Dalam pemaparannya, Ali Imron menegaskan bahwa kehadiran AI justru menjadi tantangan bagi mahasiswa dan peneliti untuk semakin memperkuat tradisi membaca. Informasi yang dihasilkan AI tidak dapat diterima begitu saja, melainkan harus diperiksa dan divalidasi melalui sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Dalam studi Al-Qur’an dan hadis, ketepatan teks, konteks, rujukan, dan metode kajian menjadi aspek penting yang menuntut ketelitian. AI memang dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran dan penelitian, tetapi tidak dapat menggantikan kebutuhan untuk membaca literatur, menelusuri sumber primer, dan menguji keakuratan informasi,” ucap Ali Imron.
Senada dengan hal tersebut, Khoirul Imam menyatakan bahwa dalam penggunaan AI, kaum akademik harus benar-benar memegang teguh etika. Menurutnya, pemanfaatan teknologi harus tetap disertai kemandirian berpikir dan tanggung jawab terhadap karya ilmiah. Mahasiswa tidak boleh bergantung sepenuhnya pada AI, terlebih menjadikan hasil yang diberikan teknologi tersebut sebagai pengganti proses belajar dan penalaran.
“Gagasan dan argumentasi ilmiah harus dibangun melalui proses intelektual yang jujur dan dapat dipertanggungjawabkan. Etika semacam inilah yang menjadi krusial di era AI sekarang ini,” tegas Khoirul Imam. /NA.