IIQ An Nur Yogyakarta Luncurkan Proyek “Digitalisasi” al-Qur’an dan Hadis

WhatsApp Image 2025 06 19 at 15.14.06 - IIQ An Nur Yogyakarta Luncurkan Proyek “Digitalisasi” al-Qur’an dan Hadis

Bantul, 16 Juni 2025Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta resmi meluncurkan proyek “digitalisasi” al-Qur’an dan hadis, yang bertujuan menghasilkan konten-konten edukatif seputar al-Qur’an dan hadis dalam format digital yang menarik, kontekstual, dan relevan bagi generasi media sosial.

Proyek ini digagas dalam kegiatan workshop yang diadakan oleh Fakultas Ushuluddin IIQ An Nur Yogyakarta bertajuk “Wahyu & Sunnah di Era Scroll: Studi al-Qur’an dan Hadis di Platform Media Sosial (Teori dan Praktik)” yang digelar pada Kamis (19/06/2025) di gedung auditorium kampus.

Dua narasumber hadir dalam acara ini, yaitu Prof. Dr. Imam Machali, M.Pd., Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Khoirul Imam, M.Ag., dosen Fakultas Ushuluddin IIQ An Nur Yogyakarta.

Dalam sesinya, Khoirul menjelaskan konsep digital consciousness, yakni kondisi mental saat manusia menyadari, mengalami, dan membentuk identitas serta hubungan hidup melalui realitas digital. Ia mendedahkan tentang pentingnya peran aktif mahasiswa dalam dunia maya, khususnya dalam bidang keilmuan yang menjadi konsentrasi program studi masing-masing.

“Mengapa digital consciousness yang kita miliki hari ini belum cukup mendorong kita menjadi content creator di bidang ilmu yang kita kuasai, seperti al-Qur’an dan hadis? Kita justru lebih sering menjadi konsumen pasif, bukan produsen aktif yang membentuk dan mengarahkan arus informasi digital,” ungkapnya.

WhatsApp Image 2025 06 19 at 15.14.04 - IIQ An Nur Yogyakarta Luncurkan Proyek “Digitalisasi” al-Qur’an dan Hadis

Khoirul menambahkan bahwa membuat konten bertema al-Qur’an dan hadis bisa menjadi salah satu jalan dakwah yang sesuai dengan zaman. Untuk itu, dibutuhkan kesadaran, kreativitas, dan strategi.

Melanjutkan sesi teori, Imam kemudian membimbing peserta dalam praktik langsung menjadi content creator. Ia menyampaikan beberapa syarat dasar yang perlu dimiliki, antara lain menentukan niche atau fokus konten (seperti tafsir ringan, hadis harian, sejarah Islam, atau self-improvement Islami) dan menyesuaikan konten dengan target audiens (remaja muslim, santri, mahasiswa, dan lain-lain).

Setelah sesi pemaparan, seluruh peserta—sebanyak 30 orang—dibagi ke dalam 14 kelompok. Masing-masing kelompok diminta menentukan niche dan tema konten mereka.

“Silakan mulai produksi konten. Jika sudah siap, hubungi tim IIQ TV untuk proses pengambilan gambar. Editing akan dilakukan oleh tim IIQ TV,” terang Imam.

IIQ TV merupakan unit media sosial kampus yang dikelola oleh mahasiswa lintas jurusan dan semester, yang aktif dalam produksi konten dakwah digital. Adapun Imam, dalam struktur IIQ TV, bertindak sebagai penasihat.

Menutup workshop, Imam menegaskan bahwa kegiatan ini akan berlanjut.

“Ini baru permulaan. Workshop ini akan berkelanjutan. Tujuannya untuk memantau perkembangan tiap grup dan memperdalam keterampilan masing-masing dalam memproduksi konten. Grup-grup inilah yang akan memulai proyek ‘digitalisasi’ al-Qur’an dan hadis,” pungkasnya. [MAF].