Ja’far Assagaf Paparkan Temuan Barunya di Seminar Nasional IIQ An Nur Yogyakarta

WhatsApp Image 2025 06 25 at 17.37.23 - Ja’far Assagaf Paparkan Temuan Barunya di Seminar Nasional IIQ An Nur Yogyakarta

Bantul, 25 Juni 2025 — Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta menggelar seminar nasional bertajuk Historiografi Hadis: Analisis Embrio, Pemetaan, dan Perkembangannya pada Rabu (25/6/2025). Seminar ini menghadirkan Dr. Ja’far Assagaf, M.A., salah seorang pakar hadis asal Yogyakarta, sebagai pembicara tunggal.

Tema seminar diangkat dari hasil penelitian terbaru Ja’far yang telah diterbitkan dalam jurnal Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, Vol. 24, No. 1 (2022), dengan judul yang sama.

Dalam sambutan pembuka, Ketua Program Studi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir, Dr. Abdul Jabpar, M.Phil.—yang mewakili Dekan Fakultas Ushuluddin, Muhammad Ikhsanudin, M.S.I.—menekankan pentingnya seminar ini. Ia mengajak seluruh peserta untuk menyimak pemaparan dengan saksama, mengingat kredibilitas pemateri dan relevansi tema yang dibahas.

“Kita simak bersama pemaparan Bapak Ja’far karena beliau memiliki pengetahuan yang mendalam dalam bidang ini,” ujar Jabpar.

Seminar yang dimoderatori oleh Ketua Prodi Ilmu Hadis, Arif Nuh Safri, M.Hum., berlangsung dinamis dengan antusiasme tinggi dari peserta, terutama saat sesi tanya-jawab yang berjalan hampir satu jam.

Dalam paparannya, Ja’far menjelaskan bahwa historiografi hadis sudah mulai berkembang sejak abad ke-2 Hijriah. Ia mencontohkan bagaimana Ibnu ‘Umar meneladani Nabi Muhammad Saw. dalam segala hal, serta upaya pencatatan hadis oleh tokoh-tokoh seperti Ibnu ‘Amr dan Abu Syah.

Ia juga menjelaskan bahwa sumber utama dalam penulisan sejarah hadis berasal dari berbagai literatur sejarah Islam, seperti kitab sirah (biografi Nabi Muhammad Saw.), tarikh (sejarah), thabaqat (biografi tokoh per generasi), dan manaqib (keutamaan para tokoh). Meskipun kitab-kitab ini tidak secara khusus membahas hadis, namun informasi yang dikandungnya sangat penting untuk menggali biografi para perawi hadis.

Lebih lanjut, Ja’far menyoroti bahwa historiografi hadis modern masih banyak berkutat pada isu-isu klasik. Namun, ia mengusulkan agar pendekatan sosial, politik, dan media dapat diintegrasikan untuk melihat bagaimana hadis berkembang dalam masyarakat masa kini, termasuk di media sosial.

“Pendekatan ini dapat memperluas cakrawala kajian hadis agar lebih kontekstual dan relevan dengan kondisi zaman,” tutupnya. [MAF]