Ketika Kuliah Tak Lagi Sekadar Soal Gelar

XDhLJ - Ketika Kuliah Tak Lagi Sekadar Soal Gelar

Oleh: Masykuri*

Untuk apa kita bersusah payah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi?

Pertanyaan sederhana yang sering dilontarkan kepada mahasiswa, dan sering sekali membuat mahasiswa terpitam-pitam dalam menjawabnya.

Tidak sedikit “mahasiswa” jika ditodong oleh pertanyaan tersebut, dengan berani menjawab secara lantang—untuk memiliki gelar, mempermudah mendapatkan pekerjaan, bahkan ada yang menjawab karena tersesat, disuruh orang tua, ikut teman dan lain sebagainya.

Entah apapun alasan dibalik seseorang memilih untuk berkuliah, kita tidak diperkenankan untuk mendiskreditkannya.

Tapi perlu dipahami bahwa kuliah tidak boleh hanya diartikan sebagai jalan pintas untuk mendapatkan gelar, pekerjaan, atau sekedar memenuhi harapan orang tua.

Lantas mahsiswa atau bahkan seseorang yang berkeinginan untuk kuliah sedang mempersiapkan diri untuk apa?

Itulah salah satu argumen yang mengemuka dalam kuliah umum bertemakan “Agama, Pendidikan, dan Ekonomi untuk Kesejahteraan: Menguatkan Peran Mahasiswa sebagai Agen Perubahan” yang digelar di Auditorium Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta, Jum’at (26/09/2026). Kuliah umum tersebut menghadirkan Staf Khusus Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat RI, Dr. Achmad Maulani, M.Si.

Dalam forum yang berlansung kurang lebih 2 jam setengah itu, mahasiswa diajak melihat perguruan tinggi bukan semata-mata sebagai tempat untuk mendapatkan ijazah. Kampus merupakan tempat untuk membangun cara berpikir, memperluas jaringan, menghasilakan karya, dan belajar membaca persoalan yang dialami masyarakat.

Sempat ada pembahasan, bahwa banyak mahasiswa setelah lulus justru bekerja di luar bidang studi yang dipelajarinya. Angka 75-85% sempat disebut sebagai gambaran. Terlepas dari tepat atau tidak tepanya angka tersebut untuk menggambarkan kondisi secara umum, kenyataanya memang banyak mahasiswa ketika terjun di dunia kerja tidak sesuai dengan jurusanya.

Lalu, kalau begitu, sebenarnya apa yang bisa kita dapatkan dan bawa pulang dari kampus?

Nilai—tentu, ijazah—tentu.

Tetapi ada hal lain yang turut dibawa yaitu: keberanian untuk menyampaikan gagasan, kemampuan bekerja sama, pengalaman organisasi, relasi atau jaringan, karya, dan kemampuan pantang menyerah serta keinginan untuk terus belajar. Dunia modern sekarang terkhusu dunia kerja sudah sangat langka mementingkan angka diatas kertas yang kamu dapatkan. Dunia kerja sekarang lebih menuntut akan bukti kemampuan yang kamu miliki, track record yang jelas, daya tahan dan atau daya juang yang kokoh.

Karena itulah organisasi dipandang cukup krusial sebagai arena latihan mahasiswa sebelum terjun dan mengaktualisasikan ilmu dan atau pengalaman yang mereka dapatkan.

Oragnisasi jangan hanya dipandang sebagai tempat berkumpul atau tempat orang-orang yang punya tujuan yang sama lalu bahu-membahu untuk mencapainya. Kalau hanya sebatas itu, dirasa terlalu sederhana untuk memaknai fungsi dari organisai.

Tidak ada organisasi yang seluruh anggotanya selalu satu suara.

Justru mahasiswa yang join organisasi dituntut untuk selalu belajar. Dalam organisai kit akita kerap kali bersemuka dengan hal-hal yang tidak kita ketemukan pada bangku kelas perkuliahan. Contoh yang mudah didapati adalah ketika mendebat gagasan orang lain, memang ketika dalam kelas kita juga sering mendapati perdebatan-perdebatan pendapat akan topik perkuliahan namun perbedaan dimensi yang dialami membuat fokus pengembangan diri dan proses mengolah ilmu—menghasilkan output yang jelas berbeda.

Dalam organisai, tidak lagi tabu bersinambung dengan orang yang tidak satu pemikiran dengan kita. Kita bisa saja berbentur dengan orang yang cara pandangnya bertolak belakang dengan kita. Dari situ, kita belajar bagaimana menyampaikan pendapat, menerima pendapat, dan merumuskan solving dari problem yang tersebut secara bersama-sama.

Proses inilah yang sebenarnya membentuk jati diri kita menjadi lebih dewasa. Sebab, kehidupan masyarakat juga tidak dibangun dari satu suara saja. Ada banyak pandangan, kepentingan, dan cara berfikir yang berbeda di dalamnya.

Informasi dan Modal Intelektual

Tantangan mahasiswa pada zaman dewasa ini menjadi lebih kompleks karena informasi bergerak sangat pesat. Satu informasi dapat menyebar ke seantero penjuru negeri dalam hitungan detik. Sebuah potongan video yang tidak jelas asal usulnya dapat menjadi viral—sampai diterima ke gawai ke seseorang dan bisa saja diterima oleh orang tersebut mentah-mentah tanpa mengetahui konteksnya. Sementara informasi yang lebih vital justru bisa terdistraksi karena kalah perhatian—disebabkan informasi tandingan yang lebih viral.

Banyak sekali beredar informasi-informasi diplatfrom jejaring sosial media yang bentuknya pro dan disisi lain kontra. Semuanya tampak meyakinkan. Tapi tentu semuanya belum tentu benar.

Lantas, harus bersikap bagaimana bagi seorang mahasiswa?

Kebiasaan memverifikasi sebuah informasi merupakan salah satu modal yang perlu dibangun dalam diri mahasiswa. Menjadi mahasiswa tidak cukup hanya dengan memiliki modal finansial untuk menunjang pendidikan. Ada modal lain yang tak kalah penting, yaitu pengetahuan, pengalaman, kemapuan menganalisis, dan cara berfikir kritis. Modal-modal ini semestinya terus dikembangkan selama menjalani kehidupan di perguruan tinggi. Oleh karena itu, ketika dihadapkan pada sebuah informasi, mahasiswa tidak seharusnya lengsung mentah-mentah menerima atau menolak sebuah informasi. Informasi yang beredar perlu diperiksa, dipertanyakan sumbernya, dilihat konteknya, dan dibandingkan dengan sumber lain. Sebab, di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk memilah informasi—mana yang autentik dan mana yang keliru menjadi bagian penting dari kecakapan seorang mahasiswa.

Keberanian yang perlu ditanam oleh semua mahasiwa.

Kritik, merupakan langkah yang perlu diambil oleh para intelektualis. Tetapi kritik seharunya tidak hanya bergerak beralaskan fomo belaka atau ramainya sebuah isu yang beredar dikomunitas daring. Dan kritik ini merupakan langkah kuratif atas kebijakan atau regulasi yang telah diberlakukan.

Jikalau kritik tidak kunjung diindahkan, demo merupakah ulti yang perlu dikeluarkan.

Demonstrasi merupakan aksi masyarakat yang dilakukan untuk menyuarakan suara dan aspirasi ketika ruang-ruang penyapian pendapat belum mendapatkan respons yang memadai.

Demonstrasi merupakan tunggangan yang perlu dinahkodai dengan sangat bertanggung jawab tanpa kepentingan apapun kecuali menyuarakan persoalan yang diderita masyarakat.

Dengan demikian, keberanian mahasiswa bukan hanya keberanian bersuara, melainkan keberanian untuk memahami dan mengurai polemik yang terjadi sebelum bersuara. Berani mengkritik ketika terdapat kekliruan, berani menyampaikan aspirasi ketika suara tidak didengar, dan berani mempertanggungjawabkan apa yang disuarakan.

Ketika Agama Bertemu Politik

Pembahasan kemudian bergerak pada persoalan agama dan politik.

Bisakah agama dibawa ke ranah politik?

Menjawab pertanyaan semacam ini tidak sesederhana mengatakan iya atau tidak. Karena agama merupakan nilai dan atau ajaran yang dijadikan pedoman kehidupan. Sedangkan politik merupakan usaha untuk mengimplementasikan hasil dari kekuasaan, kebijakan, dan kepentingan politik.

Kedua hal ini bisa bertemu—tetapi pertemuan itu membutuhkan kedewasaan.

Agama bisa saja dijadikan sebagai hiasan untuk memperoleh suara, lalu dibuang mentah-mentah ketika kekuasaan sudah berada dijangkauan tangan. Inilah salah satu bentuk negatif ketika agama diadupadukan dengan poltik oleh oknum yang belum maturitas, kemudian agama dijadikan alat politik semata.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa agama sering kali berhenti sebagai slogan.

Sering sekali politikus yang membranding dirinya dengan balutan agama, kemudian menyuarakan tentang menegakkan keadilan, menyatakan bahwa dirinya amanah, selalu menyuruh berbuat baik. Tetapi realitasnya orang yang membicarakan keadilan belum tentu adil, orang yang membicarakan tentang amanah belum tentu dapat dipercaya, orang yang menyuruh berbuat kebaikan belum tentu masih berbuat kebaikan ketika tidak ada sorot mata atau kamera.

Disinilah mahasiswa harus berperan—terkhusus mahasiswa yang berbackground ilmu islam. Ilmu agama perlu dihubungkan dengan ilmu sosial, ekonomi, teknologi, pendidikan, dan bidang-bidang yang lain. Ketika disiplin ilmu yang lain dipertemukan dangan nilai-nilai atau ilmu agama, lahirlah cara pandang yang lebih komperhensif.

Ketika Gagasan Menjadi Komoditas

Mengkapitalisasi pikiran merupakan persoalan yang mulai mencuat pada abad ini.

Hari ini, gagasan dapat menjadi objek yang bernilai. Menulis tidak lagi sekedar menjadi ruang menuangkan buah pikiran, tetapi juga menajdi komoditas untuk mencari cuan. Banyak orang manjadi influencer—menjajakan konten-kontenya guna mendapatkan penghasilan. Begitu pula dengan kemampuan public speaking yang kini semakin diasah karena dapat membuka peluang dan mendapatkan penghasilan.

Pengetahuan pun demikian. Ia tidak lagi hanya dijadikan modal untuk memahami dunia sekitar, menyelesaikan masalah dan lain sebagainya. Tetapi pengetahuan sekarang telah bertransfortasi untuk membagung usaha, dijadikan bahan jualan pada kelas-kelas dan pelatihan yang mahal.

Tapi zaman telah berubah dan semua itu tidak lagi salah sepenuhnya.

Di zaman ketika hampir segala sesuatu dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi, pikiran pun tidak luput dari proses tersebut. Gagasan, pengetahuan, keterampilan, bahkan pengalaman kini dapat menjadi modal untuk mendapatkan keuntungn. Kita sekarang telah hidup dalam keadaan di mana bukan hanya barang yang diperjualbelikan, tetapi juga apa yang ada di dalam kepala manusia.

Yang perlu kita garis bawahi adalah ketika seluruh pemikiran hanya diukur dari nebefitnya. Apakah ilmu masih digunakan untuk kepentingan Masyarakat, atau justru hanya menjadi komoditas?

Pertanyaan ini menjadi esensial untuk diajukan, karena mahasiswa hidup dalam dunia yang sangat kompetitif. Nialai akademik tetap penting, tetapi belum bisa mencukui semuanya. Jaringan, keterampilan, pengalaman organisasi, karya, dan kemampuan beradaptssi turut menentuksn perjalanan seseorang.

Karena itu, pendidikan seharusnya tidak hanya menjadi alat untuk manaikkan posisi individu, tetapi juga membuka jalan bagi mobolitas sosial.

Seseorang yang lahir dari keluarga kurang mampu, tetap harus memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya melalui pendidikan. Bukan sekedar bertujuan untuk dijadikan bantu loncatan menuju dunia kerja, tetapi juga dijadikan sebagai batu loncatan posisi sosial. Bukan hanya bertahan hidup, tetapi memiliki kesempatan untuk berkembang.

Di situlah pendidikan memiliki peranan yang krusial. Bukan hanya mencetak generasi yang mampu bersaing, tetapi juga membukakan gerbang untuk setiap orang memperbaiki kehidupannya.

Mahasiswa dan Kesejahteraan

Tema kuliah umum tersebut menghubungkan agama, pendidikan, dan ekonomi dengan kesejahteraan. Ketinganya seharusnya memang tidak berdiri sendiri.

Agama memberi nilai. Pendidikan membangun pengetahuan dan kemampuan. Ekonomi menyediakan ruang untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kualitas hidup.

Jika salah satunya diabaikan, kesejahteraan menjadi tak utuh.

Ekonomi tanpa nilai dapat melahirkan keserakahan. Pendidikan tanpa kepedulian dapat menghasilkan orang-orang pintar yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Agama tanpa pengetahuan pun mudah diseret menjadi slogan atau alat kepentingan.

Mahasiswa berada di tengah pertemuan ketiganya. Memiliki ilmu, tetapi harus belajar berhadapan dengan kenyataan. Memiliki idealisme, tetapi juga harus membuktikannya melalui karya dan tindakan.

Maka pada kuliah umum ini, argumentasinya adalah mahasiswa semestinya tidak berhenti pada, “setelah lulus saya akan bekerja di mana?” tetapi juga, “ilmu apa yang ingin ku gali, dan kontribusi apa yang bisa aku sumbangkan untuk masyarakat?”

Sebeb persoalan seperti korupsi, penyalahguaan informasi, ketimpangan ekonomi, dan budaya buruk yang telah dianggap biasa tidak akan selesai hanya dengan ssatu seminar. Tetapi setidaknya, ruang seperti ini dapat menajdi tempat untuk Kembali mempertanyakan cara kita berfikir dan menentukan sikap.

Tidak menafikkan bahwa mahasiswa merupakan manusia biasa, tidak mengelakkan juga mahasiswa tidak mampu menyelesaaikan semua persoalan. Tetapi mahasiswa harus memulainya dari hal yang paling dekat: berfikir kritis, bijak dalam bersosial media, berani menyuarakan kritik, menghasikkan karya, ikut serta dalam berorganisasi, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Untuk apa Kuliah?

Bertahun-tahun kuliah bisa berlalu begitu saja. Kita datang ke kelas, mengerjakan tugas, mengejar nilai, mengikuti oraganisasi, lalu lulus dengan membawa selembar ijazah. Tetapi setelah itu semua selesai, satu pertanyaan mungkin masih tersisa: “sebenarnya, untuk ap akita kuliah?”

Pada akhrinya, mahasiswa yang berkuliah tidak menjamin akan bekerja selinear dengan disiplin ilmu yang dia ambil.

Kuliah merupakan proses panjang untuk membangun jati diri manusia.

Manusia harusnya mampu berfikir, bekerja sama, membaca keadaan, menguji informasi, dan mempertanggungjawabkan pilihannya. Lebih dari itu, manusia harusnya mampu menggunakan ilmunya untuk sesuatu yang lebih besar.

Maka, pertanyaan “untuk apa kuliah?” perlu ditelaah mendalam oleh masing-masing mahasiswa.

Apakah kuliah hanya ditujukan untuk mendapatkan pekerjaan? Atau untuk mempersiapkan manusia yang mampu kembali memasuki masyarakat.

Jangan hanya menjadi mahasiswa yang siap masuk di dunia kerja, tetapi juga mampu menawarkan gagasan, menghasilkan karya, membuka peluang, dan memberi kontribusi.

Gelar—semua orang bisa mendapatkanya.

Ijazah—mayoritas masyarakat mungkin memilikinya.

Tetapi ilmu—ilmu yang benar-benar adalah ketika digunakan untuk memberi manfaat dan menerangi kehidupan.

Karena pada akhirnya, mahasiswa tidak hanya dituntut menjadi orang yang pintar menjawab soal.

Mahasiswa juga perlu menjawab persoalan.

*Masykuri, mahasiswa aktif IIQ An Nur Yogyakarta.