Bantul, 14 Agustus 2025—Untuk kali pertama, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta meluncurkan Program Pengabdian Berdampak 2025. Program ini melibatkan mahasiswa semester IV lintas fakultas dan dari semua program studi.
“Alhamdulillah, Program Pengabdian Berdampak 2025 akhirnya bisa dimulai. Kami berharap semua proses berjalan lancar, dari awal hingga akhir,” ungkap Plt. Ketua LPPM, Muhammad Saifullah, M.A.
Saiful menjelaskan bahwa program tersebut merupakan amanah langsung dari pengasuh Pondok Pesantren An Nur Ngrukem. Peserta diseleksi ketat untuk memastikan kesiapan mereka untuk diterjunkan ke medan pengabdian yang direncanakan akan berlangsung selama 40 hari, 20 Agustus–30 September 2025.
Para mahasiswa yang lolos seleksi akan tinggal dan beraktivitas di Pondok Pesantren An Nur Cabang Gunung Kidul, Kalurahan Bulurejo, Kapanewon Semin. Mereka akan mengembangkan masjid sebagai pusat dakwah, mengedukasi masyarakat, dan memberdayakan ekowisata masyarakat setempat.
Pada Kamis (15/08/2025), para peserta mendapat pembekalan khusus dari KH. Muslim Nawawi, pengasuh Pondok Pesantren An Nur Ngrukem. Bertempat di Ruang Rapat IIQ An Nur Yogyakarta, Kiai Muslim mengangkat tema “Spirit Pengabdian dan Amanah dari Pesantren”.
Di hadapan para mahasiswa, Kiai Muslim menyampaikan tiga pesan penting. Pertama, meniatkan pengabdian sebagai ta’lim (transfer ilmu), dakwah, dan khidmah kepada kampus serta pesantren.
“Tiga hal itu merupakan ruh dari pesantren,” tuturnya.
Kedua, berfokus pada kebutuhan masyarakat. Menurut Kiai Muslim, pengabdian yang baik diawali dengan mengenal masyarakat secara dekat, melakukan survei, berdialog, hingga memahami potensi dan kearifan lokal. Masyarakat perlu dilibatkan dalam setiap tahap, dari perencanaan hingga evaluasi, agar program bisa berkelanjutan, meski masa pengabdian formal hanya 40 hari.
Ketiga, berlandaskan pada dua hadis Nabi Muhammad Saw.
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ
“Barangsiapa yang mencontohkan suatu sunnah (perbuatan) yang baik dalam Islam maka ia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim).
يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا
“Permudahlah dan jangan dibuat sulit. Dan, berilah kabar gembira, jangan ditakut-takuti.” (HR. Bukhari-Muslim).
Hadis pertama mengajarkan bahwa siapa pun yang memberi teladan kebaikan, pahalanya akan terus mengalir sampai tidak ada lagi orang yang mengamalkan kebaikan tersebut. Hadis kedua mengingatkan agar memudahkan dan memberi kabar gembira, bukan membuat sulit atau menakut-nakuti.
“Berdasarkan hadis kedua, dakwah Anda akan disenangi masyarakat jika disampaikan dengan kemudahan dan kabar gembira. Mereka bersemangat. Sementara, hadis pertama mengajarkan, teladankanlah perbuatan mulia kepada masyarakat maka pahalanya akan terus mengalir kepada Anda selama masih ada yang mengamalkannya,” dawuh Kiai Muslim. [MAF].