Bantul, 09 Februari 2026—Dalam dua bulan pertama tahun 2026, Tim Admisi Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta telah melaksanakan safari sosialisasi ke tujuh Madrasah Aliyah (MA) di tiga kabupaten dua provinsi, yakni Boyolali dan Klaten (Jawa Tengah) dan Bantul (Daerah Istimewa Yogyakarta). Kegiatan ini menjadi bagian dari kampanye pendidikan bertajuk “Santri Harus Kuliah” yang telah dicanangkan.
Adapun madrasah yang telah dikunjungi meliputi MA Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten (03 Januari 2026), MA Jami’atul Qur’an Boyolali (03 Januari 2026), MA Unggulan Al-Imdad Bantul (28 Januari 2026), MA Al-Ihsan Doglo Boyolali (05 Februari 2026), MA Ma’arif Cepogo Boyolali (05 Februari 2026), MA Al-Mahalli Bantul (07 Februari 2026), serta MA Binaul Ummah Wonolelo (07 Februari 2026).
Ketua Tim Admisi IIQ An Nur Yogyakarta, Ali Mustaqim, M.Pd.I., menjelaskan bahwa safari ini bertujuan menumbuhkan kesadaran pentingnya pendidikan tinggi bagi santri. Menurutnya, masih beredar anggapan bahwa santri cukup menempuh pendidikan pesantren tanpa perlu melanjutkan ke perguruan tinggi.
“Masih ada pandangan bahwa berdakwah di masyarakat tidak memerlukan ijazah. Padahal, kondisi bangsa saat ini justru membutuhkan talenta pesantren yang menjunjung tinggi akhlak mulia sekaligus memiliki kompetensi akademik,” ujar Ali.
Ia menambahkan, santri punya potensi besar untuk berkontribusi dalam dunia ilmu pengetahuan karena di pesantren mereka tidak hanya dibina akhlaknya, tetapi juga dilatih berpikir kritis serta berbahasa.
“Kita menyaksikan banyak penyalahgunaan wewenang di berbagai lembaga dan institusi. Salah satu solusi jangka panjangnya adalah mendorong santri masuk ke institusi resmi negara. Untuk itu, santri harus kuliah karena ijazah menjadi syarat utama memasuki lembaga-lembaga dan institusi-institusi tersebut,” tegasnya.
Usai mengampanyekan gerakan “Santri Harus Kuliah”, Tim Admisi IIQ An Nur Yogyakarta juga mensosialisasikan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Bagi sekolah mitra disediakan jalur khusus undangan yang memberikan kemudahan akses masuk ke IIQ An Nur Yogyakarta.
Tim admisi turut menegaskan bahwa IIQ An Nur Yogyakarta merupakan perguruan tinggi berbasis Al-Qur’an dan kepesantrenan. Dengan demikian, para lulusan MA berbasis pesantren tetap dapat melanjutkan hafalan Al-Qur’an, belajar kitab kuning, serta mondok di Pondok Pesantren An Nur Ngrukem atau Rumah Tahfidz Al-Barokah Bantul yang berada di bawah binaan IIQ An Nur Yogyakarta.
“Seluruh MA yang kami kunjungi berbasis pesantren. Karena kampus kami juga berbasis Al-Qur’an dan kepesantrenan, para siswa terlihat sangat antusias,” ungkap Ali.
Antusiasme tersebut bahkan diwujudkan dengan pendaftaran langsung beberapa siswa di lokasi kegiatan. Kepala MA Jami’atul Qur’an Boyolali bahkan nmenyatakan rencananya untuk mengajak para siswa berkunjung langsung ke IIQ An Nur Yogyakarta.
“Mereka meminta kami datang kembali tahun depan untuk memotivasi siswa agar melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kampanye ‘Santri Harus Kuliah’ dinilai benar-benar menggugah kesadaran mereka,” pungkas Ali. [MAF].