Ada “Barat” dalam Pikiran dan Kesadaran Kita

WhatsApp Image 2025 10 17 at 14.24.11 1 - Ada “Barat” dalam Pikiran dan Kesadaran Kita
(Catatan dari Studium Generale Katrin Bandel)

Bantul, 17 Oktober 2025—“Ketika ada orang Barat masuk Islam, seperti saya, misalnya, betapa sangat disyukuri, dirayakan. Tetapi, kalau ada orang Negro masuk Islam, biasa-biasa saja. Kenapa bisa begini? Karena kita merasa Barat sudah unggul dalam sains, adidaya, tetapi mau masuk Islam, tentu itu sesuatu yang luar biasa. Perasaan semacam ini sejatinya lahir dari orang-orang yang pikirannya telah terjajah oleh wacana kolonial. Barat unggul, Islam rendah,” ucap Dr. Katrin Bandel pada acara stadium generale yang diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta, Jum’at (17/10/2025), di gedung auditorium kampus.

“Poskolonialisme adalah bidang studi yang membicarakan efek kolonialisme terhadap manusia dan budayanya, serta meneliti dan merumuskan resistensi atau subversi terhadap kolonialisme tersebut,” tambah Katrin.

Katrin adalah intelektual yang berasal dari Jerman, tetapi sudah 23 tahun menetap di Yogyakarta. Ia menjadi dosen Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan telah menjadi mualaf sejak tahun 2010. Ia dikenal publik sebagai kritikus sastra, ahli feminisme dan poskolonialisme. Dalam stadium generale yang bertema “Dekolonisasi Pengetahuan: Membaca Al-Qur’an dan Hadis dalam Perspektif Teori Poskolonial” itu, Katrin mengklasifikasikan wacara kolonial ke dalam tiga jenis.

BACA JUGA:
Keuangan Syariah, Dunia Digital, dan Eksistensi Mahasiswa

Mengapa Ekonomi Islam Penting?

Ekoteologi IIQ An Nur Yogyakarta Menggema di Bali: Catatan dari Rihlah Ilmiah Rektor
Wacana Kolonial

Pertama, rasisme. Bangsa Eropa, yang menjajah wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Latin, untuk melegitimasi penjajahannya, mereka menciptakan pembenaran ideologis, bahwa orang Eropa lebih superior (beradab, cerdas, modern), sedangkan bangsa terjajah dianggap inferior (primitif, tidak rasional, butuh dididik). Kulit putih adalah ras yang maju, sedangkan kulit berwarna terbelakang, dan oleh karenanya penguasaan ras kulit putih terhadap ras kulit berwarna dijustifikasi bahasa yang eufemis, “Kami menjajah demi memajukan mereka.”

“Wacana rasisme inilah yang menjadi awal dari terbentuknya rasisme modern, yaitu sistem berpikir yang menilai manusia berdasarkan ras dan warna kulit,” kata Katrin.

Katrin mengangkat kasus Frantz Fanon, seorang dokter revolusioner asal Martinique penentang kolonialisme. Ia ikut dalam barisan Prancis dalam memerangi fasisme Adolph Hitler, tetapi diperlakukan dengan rasis oleh militer Prancis. Fanon, dalam bukunya, Black Skin, White Masks,menggambarkan bagaimana rasisme membentuk pengalaman orang kulit hitam, baik di Eropa maupun di luar Eropa, yang dideskripsikan, antara lain pengalaman merasa selalu diamati, dan dipandang hanya sebagai warna (ras), bukan sebagai individu; pengalaman diperlakukan sebagai orang bodoh atau primitif; rasa inferior, dan selalu berusaha untuk “menjadi putih”.

Kedua, orientalisme. Edward W. Said, penggagas orientalisme, menyatakan dalam karyanya, Orientalism, bahwa orientalisme pada dasarnya bukanlah studi tentang “Timur”, tetapi merupakan cara berpikir dan sistem wacana yang dibentuk oleh kekuasaan kolonial untuk mengonstruksi citra “Timur” sebagai lawan dari “Barat.” Timur digambarkan terbelakang, emosional, mistis, dan malas, sedangkan Barat diposisikan modern, rasional, ilmiah, dan aktif. Dengan oposisi biner seperti itu, Barat menegaskan superioritas dirinya dan inferioritas dunia Timur, lalu menjadikannya dasar legitimasi penjajahan. Sistem yang terstruktur ini terus direproduksi oleh lembaga-lembaga Barat, seperti universitas, media, dan sastra untuk mengesankan bahwa Barat adalah produsen tunggal makna tentang Timur, sementara orang Timur diubah menjadi objek studi, bukan subjek pengetahuan.

Orientalisme bekerja melalui tiga mekanisme. Mekanisme pertama adalah representasi stereotip. Citra tentang Timur selalu disederhanakan dan dikurung dalam stereotip mistis, sensual, malas, penuh takhayul, sedangkan Barat itu logis, berdisiplin, rasional. Representasi ini membentuk imaji kolektif dunia bahwa Baratlah pusat peradaban. Mekanisme kedua adalah produksi pengetahuan asimetris, di mana pengetahuan akademik kolonial tentang bahasa, adat, atau sejarah Timur diklaim ilmiah, padahal dibangun dari posisi superioritas kolonial. Akibatnya, yang disebut ilmu tentang Timur sebenarnya adalah ilmu tentang bagaimana Barat ingin melihat Timur. Mekanisme ketiga adalah internalisasi. Ini yang paling bahaya karena masyarakat Timur menginternalisasi citra yang diciptakan oleh Barat itu. Mereka merasa lebih rendah, malu pada budayanya sendiri, dan memuja model modernitas Barat. Ini disebut kolonisasi pikiran (colonial mentality).

“Menurut kajian poskolonial dari Ashis Nandy, efek kolonialisme yang perlu diteliti bukan hanya yang bersifat fisik/luar, tetapi juga yang bersifat psikologis. Ashis mengatakan, ‘The west is now everywhere, within the west and outside. In structure and in mind (Barat kini ada di mana-mana, di dalam dan di luar Barat. Dalam struktur dan dalam pikiran.),” ucap Katrin.

Ketiga, misi peradaban. Bangsa Barat menyatakan bahwa bangsa penjajah memiliki tugas suci untuk “memajukan,” “mendidik,” dan “mencerdaskan” bangsa-bangsa Timur yang dianggap terbelakang. Bangsa Eropa merasa dipanggil secara moral dan religius untuk menyebarkan nilai, agama, dan sistem sosialnya kepada dunia lain karena hanya budaya Barat yang dianggap rasional, ilmiah, dan universal, dan oleh karena itu, semua bangsa diyakini akan (dan harus) mengikuti jalur kemajuan yang sama seperti Barat. Dengan demikian, kolonialisme tidak lagi tampak sebagai penjajahan, melainkan proyek kemanusiaan dan moral.

“Kita ini kan masyarakat yang sangat toleran. Tetapi, untuk dianggap sebagai toleran, kita perlu untuk belajar toleransi ke Barat, misalnya Amerika. Padahal, orang-orang Amerika lebih tidak toleran ketimbang masyarakat kita,” tutur Katrin.

Dekolonisasi

Islamophobia, kata Katrin, hadir sebagai salah satu bentuk dari kolonialisme. Disadari atau tidak, ada wujud rasa inferior dan usaha “menjadi putih” dalam konteks masyarakat muslim saat ini. Salah satu buktinya, kita merasa minder berhadapan dengan non-muslim karena Islam dicitrakan (oleh Barat) sebagai entitas yang terbelakang, seksis, dan penuh kekerasan.

“Usaha untuk menciptakan citra Islam yang lebih bisa diterima dari segi nilai Barat yang kini mendominasi secara global, misalnya, menyesuaikan narasi kehidupan Nabi Muhammad Saw. untuk konteks masyarakat global,” tegas Katrin.

Hal tersebut merupakan salah satu cara dekolonisasi, yakni proses pembongkaran wacana kolonial dalam cara berpikir dan kesadaran kita. Menurut Katrin, ada beberapa unsur yang perlu dipertimbangkan dalam proyek dekolonisasi ini.

Pertama, membangkitkan kesadaran akan wacana kolonial dan bentuk-bentuk kontemporernya. Kita dituntut mampu mengenali narasi-narasi yang menempatkan Barat sebagai pusat peradaban dan menganggap budaya atau sistem kita sebagai inferior. Kita perlu kesadaran kritits untuk tidak lagi menerima nilai-nilai Barat sebagai “normal” atau “benar”.

Kedua, menyadari implikasi psikologis dari wacana kolonial (rasa ingin “menjadi putih”). Tanpa menyadarinya, kita akan tetap terkungkung dalam colonial mentality, yangmembuat kita meremehkan identitas, budaya, dan kemampuan kita sendiri. Menyadari efek psikologis ini akan membebaskan diri kita dari tekanan internal yang menundukkan kesadaran dan kepercayaan diri kita sendiri.

Ketiga, membangkitkan rasa percaya diri dengan berfokus pada pembenaran (yang berorientasi pada Barat). Dengan kata lain, masyarakat poskolonial harus mampu menilai identitas, budaya, dan karya mereka berdasarkan ukuran yang relevan dengan konteks mereka sendiri, bukan lagi dengan standar-standar, epistemologi, dan nilai-nilai Barat. [MAF].