(Sebuah Prasaran dari Puji Solikhah, M.M.)
Bantul, 14 Oktober 2025— Ketua Program Studi Ekonomi Syariah (Kaprodi ES) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta, Puji Solikhah, M.M., memotivasi mahasiswa agar mereka meyakinkan diri sejak dini bahwa mereka adalah calon pemimpin umat. Di tangan mahasiswalah masa depan umat Islam dan bangsa Indonesia dibentuk melalui ilmu, karya, dan keteladanan.
“Mahasiswa hari ini bukan hanya calon sarjana, tetapi juga calon pemimpin umat. Maka, tanggung jawab kalian jauh lebih besar dari sekadar mengejar IPK tinggi atau lulus tepat waktu,” ujar Puji dalam Seminar-Talkshow Nasional 2025 yang diselenggarakan oleh UKM Kelompok Studi Ekonomi Islam Nahdlatul Muqtashid (KSEI NASHID) IIQ An Nur Yogyakarta, Selasa (14/10/2025).
Acara yang digelar di Auditorium Kampus IIQ An Nur ini menghadirkan Puji bersama Alfin Dwi Novemyanto, S.H., tokoh muda peraih penghargaan Pemuda Berprestasi dan Inspiratif dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Seminar ini mengangkat tema “Generasi Intelektual Berdaya: Melek Keuangan Syariah dan Produktif Berkarya di Era Digital”.
Melek Keuangan Syariah
Puji menjelaskan bahwa sistem keuangan syariah berlandaskan pada nilai-nilai keadilan, amanah, kerja sama (syirkah), dan larangan riba. Dalam sistem ini, uang tidak boleh “beranak” tanpa usaha, dan tidak boleh ada pihak yang dirugikan. Harta dipandang sebagai titipan Allah Swt. yang harus dikelola secara bertanggung jawab agar membawa keberkahan. Tujuan akhirnya adalah falah (kesejahteraan yang mencakup kebahagiaan dunia dan akhirat).
Bagi mahasiswa, pemahaman tentang keuangan syariah menjadi penting karena tantangan zaman kian kompleks. Gaya hidup konsumtif, derasnya iming-iming pinjaman online, dan minimnya literasi investasi halal menjadi masalah. Melek keuangan syariah kiranya dapat membantu mahasiswa mengatur keuangan dengan bijak, menabung dengan niat baik, dan berinvestasi secara halal. Empat pilar yang perlu diperkuat adalah literasi keuangan, perencanaan keuangan, investasi halal, dan etika konsumsi Islami. Dengan empat hal itu, mahasiswa akan lebih siap menghadapi dunia kerja dan turut berkontribusi dalam membangun ekonomi umat yang adil dan berkeberkahan.
Di era digital, tantangan tidak hanya datang dari aspek keuangan. Cara mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi pun juga merupakan tantangan besar. Dunia maya menawarkan peluang besar, namun juga jebakan yang berbahaya, seperti konsumsi konten berlebihan, disinformasi, dan kehilangan arah produktivitas. Mahasiswa seyogianya bukan menjadi penikmat informasi. Lebih dari itu, mereka juga dituntut mampu pencipta perubahan.
“Jangan hanya jadi consumer of content. Jadilah creator of change,” pesan Puji.
Peluang di Dunia Digital
Peluang di dunia digital sebenarnya luas. Kita mengenal fintech syariah, e-wallet halal, bisnis daring berbasis halal, hingga dakwah dan edukasi digital. Mahasiswa bisa menulis artikel tentang ekonomi Islam, membuat konten Islami, atau membangun usaha yang berlandaskan nilai-nilai syariah. Dalam semua aktivitas itu, nilai-nilai Islam seperti amanah dalam transaksi, adil dalam mengambil keuntungan, bijak dalam memberi hasil terbaik, dan maslahat dalam setiap tindakan agar teknologi benar-benar membawa manfaat bagi umat harus menjadi pedoman.
Mahasiswa yang berilmu dan beretika akan mampu menyeimbangkan dunia dan akhirat. Mereka belajar mengelola waktu, rezeki, dan teknologi dengan cara yang diridai Allah Swt. Aksi nyatanya bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mengikuti pelatihan keuangan syariah, membuka rekening bank syariah, menghindari utang konsumtif, bersedekah digital, berinvestasi halal, dan mengembangkan karya Islami di dunia maya.
Pada akhirnya, mahasiswa yang produktif, Islami, dan melek finansial akan tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang berintegritas. Rasulullah Saw. bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.I (HR. Muslim).
“Jangan hanya sibuk mengejar gelar, tetapi kejar juga keberkahan. Sebab, masa depan umat membutuhkan pemimpin yang cerdas berpikir sekaligus tulus beramal,” pesan Puji sebelum menutup pemaparan. [MAF].