Bantul, 27 Desember 2025—Program Magister Pendidikan Agama Islam (M-PAI) Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta menggelar seminar literasi bertajuk “Strengthening Academic Literacy in Islamic Education” pada Sabtu (27/12/2025). Kegiatan ini menghadirkan pemateri tamu, Annas Rolli Muchlisin, M.A., mahasiswa program doktoral Harvard University, Amerika Serikat.
Karena menghadirkan narasumber dari luar negeri, seminar diselenggarakan secara hybrid, yakni daring melalui Zoom dan luring di Gedung Auditorium IIQ An Nur Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa Magister PAI dari semua angkatan.
Dalam sambutannya, Ketua Program Studi M-PAI, Dr. Moch. Taufiq Ridho, M.Pd., menegaskan bahwa seminar ini bertujuan memperkuat pemahaman mahasiswa tentang literasi akademik, khususnya dalam penulisan karya ilmiah, sekaligus membuka wawasan tentang peluang akademik di tingkat global.
Menurut Taufiq, kehadiran Annas sebagai pemateri bukan tanpa alasan. Selain sedang menempuh studi doktoral di Harvard University, Annas juga memiliki pengalaman panjang dalam dunia kepenulisan ilmiah dan merupakan alumni Pondok Pesantren Aji Mahasiswa Al-Muhsin Krapyak, Yogyakarta.
“Saya berharap Mas Annas dapat menularkan semangat menulis kepada mahasiswa kita, sekaligus memberikan bekal praktis tentang penulisan karya ilmiah. Ini penting karena dalam waktu dekat, mahasiswa kita akan berhadapan dengan penulisan tugas akhir atau tesis,” ujar Taufiq.
Mengawali pemaparannya, Annas mengajukan pertanyaan reflektif kepada peserta, “Mengapa mahasiswa PAI perlu menulis?”
Menurutnya, ilmu pengetahuan perlu dituliskan dan diuji agar tetap hidup dan berkembang. Tanpa tradisi menulis, suatu disiplin keilmuan akan sulit berkembang dan kehilangan relevansi praksisnya.
“Menulis adalah satu-satunya jalan untuk mengembangkan ilmu dan menguji apakah suatu gagasan memiliki daya guna dalam konteks pendidikan Islam,” jelas Annas.
Annas juga menyatakan bahwa aktivitas menulis membuka banyak peluang akademik, mulai dari beasiswa, program exchange, hingga short course internasional. Bahkan, dalam banyak kasus, rekam jejak publikasi ilmiah dinilai lebih menentukan dibandingkan sekadar nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).
“Tulisan yang terbit sering bakal menjadi penentu utama dalam seleksi akademik,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Annas menjelaskan bahwa menulis melatih ketajaman berpikir, ketepatan konsep, dan kemampuan bernalar secara sistematis. Tulisan ilmiah, menurutnya, harus berbasis data dan teori, bersifat argumentatif, serta menjadi bagian dari dialog akademik, bukan opini atau ceramah normatif.
Dalam pemaparannya, Annas juga menguraikan tiga kesalahan umum yang kerap dilakukan mahasiswa dalam menulis karya ilmiah. Pertama, pemilihan topik yang terlalu luas sehingga tidak dapat dibahas secara mendalam. Kedua, lemahnya analisis, padahal analisis merupakan inti dari tulisan ilmiah. Ketiga, penggunaan bahasa yang normatif dan emosional, yang seharusnya dihindari dalam penulisan akademik.
“Bahasa ilmiah tidak boleh emosional seperti sastra, juga tidak normatif seperti teks hukum. Ia harus objektif, argumentatif, dan berbasis data,” tegasnya.
Berikutnya, Annas memaparkan dasar-dasar kepenulisan ilmiah secara lebih teknis dengan menghadirkan contoh konkret. Ia mengangkat tiga tema, yakni moderasi beragama dalam PAI, pendidikan Islam dan pluralitas, serta tantangan generasi digital.
Melalui contoh-contoh tersebut, peserta diajak memahami tahapan penulisan ilmiah secara runtut, mulai dari penentuan fokus masalah, perumusan pertanyaan penelitian, penyusunan kerangka tulisan, teknik pengumpulan dan analisis data, hingga penyusunan kalimat akademik yang tepat.
Pemaparan yang sistematis dan aplikatif membuat suasana seminar hidup. Antusiasme peserta terlihat ketika sesi tanya-jawab dibuka, dengan berbagai pertanyaan kritis yang diajukan mahasiswa seputar teknik menulis, publikasi ilmiah, hingga peluang studi lanjut ke luar negeri. [MAF].