- Sebanyak 32 mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir serta Ilmu Hadis mengikuti KKL yang diarahkan pada penulisan artikel ilmiah untuk publikasi buku atau jurnal.
- Dua tokoh narasumber berbeda pandangan tentang tema-tema penelitian Al-Qur’an dan hadis.
BANTUL, NUR.ac.id—Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta tahun akademik 2026/2027 resmi dibuka pada Senin (02/11/2026). Program yang diikuti oleh 32 mahasiswa dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (Prodi IAT) dan Ilmu Hadis (ILHA) itu dibuka dengan workshop academic writing dengan tema “Mengambangkan Tradisi Intelektual dan Publikasi Melalui Riset Mahasiswa Al-Qur’an dan Hadis”, di Paddys Café & Eatery, Jl. Pramuka No. 10, Krandohan, Bantul.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia KKL, Umi Aflaha, M.S.I., mengatakan bahwa KKL akan berlangsung sejak tanggal 2 November 2026 hingga akhir Desember. I1a juga menyampaikan bahwa KLL difokuskan pada penulisan artikel ilmiah, baik barupa artikel lepas yang nantinya akan dikumpulkan dalam book chapter maupun artikel ilmiah yang diorientasikan dikirim ke jurnal ilmiah.
“Pada dasarnya, workshop academic writing ini dimaksudkan sebagai penunjang dan bekal bagi mahasiswa sebelum memulai proyek penulisan artikel ilmiahnya,” ujar Umi.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ushuluddin IIQ An Nur Yogyakarta, Dr. Abdul Jabpar, M.Phil., memberikan pra-wacana. Ia menyatakan bahwa mahasiswa merupakan agen intelektual, dan oleh karenanya harus memantaskan diri sebagai intelektual.
“Menurut Edward W. Said, tugas seorang intelektual itu adalah di satu sisi memproduksi pengetahuan, dan di sisi lain mendistribusikan pengetahuan. Selama dua bulan ini, kawan-kawan akan melakukan riset—kerja utama seorang intelektual,” cetus Jabpar.
Workshop academic writing menghadirkan dua orang penyaji. Pernyaji sesi pagi, Prof. Dr. Arif Maftuhin, M.Ag., M.A.I.S., menjelaskan tentang arah dari studi Al-Qur’an dan hadis. Menurutnya, banyak tugas akhir atau artikel ilmiah yang core-nya studi Al-Qur’an, namun yang diteliti justru “melenceng”. Isinya malah berupa tafsir Al-Qur’an dan hadis atau antropologi Al-Qur’an dan hadis.
“Menghasilkan tafsir baru dengan metode ma’na cum maghza ya boleh-boleh saja, tetapi itu kan pekerjaannya mufasir, bukan ilmuwan Al-Qur’an. Demikian pula dengan kajian living Qur’an atau hadis, boleh-boleh saja, tetapi itu pekerjaan antropolog,” ucap Arif.
“Ilmuwan Al-Qur’an dan hadis masih punya pekerjaan rumah yang sangat banyak,” tambahnya.
Arif menyebutkan beberapa pekerjaan rumah yang belum banyak digarap oleh ilmuwan Al-Qur’an dan hadis. Untuk bidang khazanah Nusantara saja, bidang-bidang penelitian berupa sanad dan jejaring sanad Al-Qur’an dan hadis ulama-ulama Nusantara, rasm dan qira’at serta variasi mushaf, penerjemahan lokal, manuskrip Al-Qur’an dan hadis, makna gandul, anotasi, pengajaran Al-Qur’an di pesantren, relasi intertekstual antar-kitab tafsir Nusantara merupakan di antara tema-tema yang belum banyak tergarap.

Berbeda dari Arif, penyaji sesi siang, M. Ikhsanuddin, M.S.I., lebih fleksibel. Ia membagi kajian Al-Qur’an ke dalam tiga poros dengan total 12 klaster. Poros pertama adalah teks (nash), yang mencakup kajian bahasa seperti nahwu, balaghah, dan semantik; tafsir tematik, tafsir maqashidi, dan ma’na cum maghza; ulumul Qur’an dan tafsir; serta, tajwid, qiraat, dan nagham. Poros kedua berkaitan dengan sejarah dan karya. Klaster di dalamnya meliputi studi kitab tafsir, mufasir dan jejaringnya, tafsir kawasan, serta manuskrip dan filologi. Adapun poros ketiga mencakup resepsi dan konteks, dengan klaster berupa living Qur’an dan tafsir, terjemahan dan lokalisasi bahasa, tafsir sosial dan digital, serta historiografi dan bibliometri.
Pemetaan serupa juga disampaikan untuk bidang ilmu hadis. Ikhsanuddin membaginya menjadi tiga poros dengan 12 klaster. Poros riwayat dan teks meliputi kritik sanad, kritik matan, takhrij dan ‘ilal, serta historiografi transmisi. Poros karya dan metode mencakup studi kitab hadis, kitab syarah, kitab rijal dan mushthalah, serta kajian ulama hadis dan jejaringnya. Sementara, poros resepsi dan teknologi mencakup hadis tematik-kontekstual, living sunnah, manuskrip dan filologi, serta fenomena digital.
Setelah workshop, 32 mahasiswa peserta KKL dibagi menjadi enam kelompok. Setiap kelompok mendapatkan pendampingan dari mentor yang ditunjuk oleh fakultas. Enam mentor tersebut adalah Dr. Abdul Jabpar, M.Phil., Umi Aflahah, M.S.I., Qowim Musthofa, M.Hum., Nur Aini, M.A., Khoirul Imam, M.Ag., dan Arif Nuh Safri, M.Hum. Pendampingan difokuskan pada tata cara dan teknis penulisan artikel ilmiah, kedisiplinan dalam penyelesaian serta pengumpulan tulisan, pengembangan keragaman tema penelitian, dan kesesuaian naskah dengan pedoman penulisan yang ditetapkan fakultas. [MAF].