Gunungkidul, 6 Januari 2026—Panitia Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke-22 Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta Tahun Akademik 2025/2026 bersama jajaran dosen pembimbing lapangan (DPL) melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) lapangan mahasiswa KKN angkatan ke-22 pada Selasa (06/01/2026).
Kegiatan monev ini mencakup pemantauan di 14 lokasi KKN yang tersebar di Kalurahan Bulurejo dan Bendung, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul. Adapun lokasi tersebut meliputi Padukuhan Gobeh, Grogolan, Karangasem, Taunan, Keringan Kidul, Keringan Lor, Keringan Wetan, Bulurejo, Dawe, Dringo, Garotan, Banyu Kendil, Widoro Lor, dan Widoro Kidul. Selain itu, monitoring dan evaluasi juga dilaksanakan di Kompleks Attariq Pondok Pesantren An Nur Ngrukem, Kalurahan Pendowoharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, bagi mahasiswa peserta KKN Mandiri.
Monev lapangan kali ini melibatkan tujuh Tim Mitra Bestari (reviewer), meliputi Dr. A. Sihabul Millah, M.A. (mereview kelompok Gobeh dan Dringo), Dr. H. Munjahid, M.Ag. (mereview kelompok Garotan dan Grogolan), Drs. H. Atmaturida, M.Pd. (mereview kelompok Attariq), Dr. Khoirun Niat, M.A. (mereview kelompok Karangasem dan Dawe), Dr. Lina, M.Pd. (mereview kelompok Taunan dan Widoro Lor), M. Arif Kurniawan, M.E.I. (mereview kelompok Keringan Lor, Keringan Wetan, dan Bulurejo), dan H. M. Ikhsanuddin, M.S.I. (mereview kelompok Banyu Kendil, Keringan Kidul, dan Widoro Kidul).
Tujuan dan Indikator
Ketua Panitia KKN ke-22, Muhammad Saifullah, M.A., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan pelaksanaan monitoring kedua setelah penerjunan mahasiswa KKN yang dilakukan pada 9 Desember 2025. Sebelumnya, panitia telah melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) secara daring pada 23 Desember 2025, namun kegiatan tersebut hanya melibatkan panitia dan belum melibatkan Tim Mitra Bestari dan dosen pembimbing lapangan (DPL).
“Monev lapangan ini bersifat komprehensif karena melibatkan panitia, DPL, dan Tim Mitra Bestari. Tujuannya untuk menindaklanjuti hasil monev daring sebelumnya, apakah sesuai dengan kondisi di lapangan atau tidak. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memastikan bahwa implementasi KKN berjalan sesuai dengan tujuan dan pedoman yang telah ditetapkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM),” tutur Saifullah.
Saifullah menambahkan, pemantauan difokuskan pada beberapa indikator, yakni kondisi lokasi (geografis, akses, dan pemetaan titik program), kondisi tempat tinggal mahasiswa (penerangan, sirkulasi udara, kenyamanan, dan akses internet), serta persiapan program yang mencakup penyusunan tabel dan jadwal program kerja beserta pendampingan DPL.
Selain itu, monev juga menilai pelaksanaan program, meliputi intensitas kunjungan DPL, pendampingan perangkat desa atau tokoh masyarakat, respons dan partisipasi masyarakat, serta kendala yang dihadapi mahasiswa. Komponen berikutnya adalah proses pembimbingan DPL, termasuk pemecahan masalah, monitoring, dan komunikasi dengan pihak desa. Terakhir, luaran kegiatan, yakni penyusunan laporan program kerja dan persiapan artikel Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).
Hasil dan Kendala
Berdasarkan analisis dari Tim Mitra Bestari, hasil monitoring dan evaluasi lapangan menunjukkan capaian kumulatif sebesar 80 persen atau skor 3 dari 4. Capaian ini mengindikasikan bahwa pelaksanaan KKN secara umum berjalan lancar, meskipun masih terdapat beberapa kendala yang perlu ditangani. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah heterogenitas masyarakat. Lokasi KKN bersifat nasionalis. Terdapat keberagaman agama, aliran, dan latar belakang. Sebagian besar kelompok KKN mampu menjembatani perbedaan tersebut, meskipun masih ada beberapa kelompok yang menjadikannya sebagai pekerjaan rumah (PR) yang cukup besar.
Sementara itu, tingkat kehadiran mahasiswa di lokasi KKN berada pada kisaran 80–100 persen, dan pelaksanaan program kerja mencapai 80–95 persen, yang menunjukkan tingkat keterlaksanaan program yang cukup tinggi.
Adapun respons masyarakat terhadap kehadiran mahasiswa KKN dinilai sangat positif. Masyarakat menyambut mahasiswa dengan antusias dan merasakan manfaat nyata dari berbagai program yang dijalankan, seperti ngaji satu juz, pengajian fiqh dan tafsir, pengajaran TPQ/TPA, pelatihan keterampilan, penyuluhan kesehatan, pengembangan usaha mikro, serta kegiatan edukatif lainnya. Bahkan, di beberapa lokasi, mahasiswa KKN berhasil mendirikan TPQ dan TPA yang sebelumnya belum tersedia, sehingga memberikan kontribusi penting bagi pengembangan keagamaan masyarakat.
Apresiasi juga disampaikan oleh Sugiyarto, Kepala Dukuh Keringan Lor, yang menekankan dua indikator utama keberhasilan KKN, yakni kemampuan mahasiswa untuk srawung (bergaul) dengan masyarakat dan kelancaran pelaksanaan program kerja. Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN IIQ An Nur Yogyakarta sangat membantu masyarakat setempat.
“Menurut kami, inti dari pelaksanaan KKN ada dua hal, yaitu sejauh mana mahasiswa mampu srawung (bergaul) dengan masyarakat serta apakah seluruh program kerja yang direncanakan dapat berjalan dengan baik atau justru terhambat. Sebagai perangkat desa, kami memastikan dua hal tersebut. Hasilnya, kami merasa sangat terbantu dengan kehadiran mahasiswa KKN dari IIQ An Nur,” ujar Sugiyarto.
Meski demikian, Saifullah menegaskan bahwa hasil monev ini juga menjadi dasar untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang masih perlu ditingkatkan. Masukan dan rekomendasi dari proses evaluasi akan digunakan oleh panitia dan dosen pembimbing lapangan (DPL) untuk melakukan perbaikan pasca-monev, agar pelaksanaan KKN semakin berkualitas, relevan, dan berdampak bagi masyarakat. [MAF].