Bantul, 25 November 2025—Pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke-22 Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta tahun akademik 2025/2026 berlangsung pada Selasa (25/11/2025) di auditorium kampus. Tahun ini, jumlah peserta mencapai 164 orang, terdiri atas 49 mahasiswa dan sisanya mahasiswi. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, peserta terbagi dalam dua formasi, yakni KKN Mandiri dan KKN Terpadu. Formasi Mandiri berisi satu kelompok dengan 11 peserta, sedangkan KKN Terpadu dibagi menjadi 14 kelompok dengan jumlah anggota yang bervariasi.
Seluruh peserta akan mengabdi di dua kelurahan di Kecamatan Semin, Gunung Kidul, yaitu Bulurejo dan Bendung. Enam kelompok ditempatkan di Bulurejo dan delapan kelompok di Bendung, masing-masing menempati satu padukuhan. Padukuhan tersebut meliputi Grogolan, Karangasem, Taunan, Keringan Kidul, Keringan Lor, Keringan Wetan, Bulurejo, Pencil, Dawe, Dringo, Garotan, Banyu Kendil, Widoro Lor, dan Widoro Kidul. Sementara itu, peserta KKN Mandiri akan mengabdi di Kompleks Attariq Pondok Pesantren An Nur Ngrukem, Kalurahan Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Bantul.
PEMBUKAAN
Rangkaian pembekalan dimulai dengan pembukaan, diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan lantunan ayat suci al-Qur’an. Ketua Yayasan Al Ma’had An Nur Ngrukem, KH. Muslim Nawawi, kemudian memberikan pengarahan, menekankan pentingnya menjaga akhlak di lokasi KKN.
“Hal yang akan dipandang oleh masyarakat dari panjenengan semua pertama-tama adalah akhlaknya seperti apa, baru setelah itu program dan kontribusinya,” terang Kiai Muslim.
“Mengenai program dan kontribusi apa yang harus diabdikan kepada masyarakat, tentu, karena kalian mahasiswa IIQ An Nur, maka harus bersandar pada al-Qur’an,” tambahnya.
Ketua Panitia KKN ke-22, Muhammad Saifullah, M.A., dalam sambutannya mengimbau peserta untuk mengikuti pembekalan dengan sungguh-sungguh agar tidak kebingungan ketika diterjunkan.
“Kalau perlu, hal-hal penting dan materi-materi dicatat, lalu dibaca ulang nanti sebagai pedoman nantinya hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan, baik perlengkapan fisik maupun lainnya,” ucapnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik, Dr. H. Munjahid, M.Ag., yang menyatakan bahwa KKN IIQ An Nur selalu memperoleh apresiasi positif dari masyarakat dan pemerintah desa.

“Bisa dibilang, kita selalu juara satu, terbaik, di mata masyarakat dan pemerintah, utamanya pemerintah desa,” tutur Munjahid.
Menurutnya, apresiasi itu lahir dari tiga indikator utama: peserta KKN selalu menyatu dengan masyarakat hingga kerap ditangisi saat penarikan; mereka dikenal sopan dan santun, termasuk dalam menjaga interaksi dengan lawan jenis; dan program-program yang dijalankan senantiasa berbasis pada kebutuhan masyarakat, khususnya bidang keagamaan.
MATERI VISI DAN MISI
Materi pertama disampaikan oleh Rektor IIQ An Nur Yogyakarta, Dr. Ahmad Sihabul Millah, M.A., mengenai visi dan misi kampus beserta penerjemahannya ke dalam program kerja KKN.
“Di visi, ada empat kata kunci utama, yaitu ‘al-Qur’an’, ‘kepesantrenan’, ‘unggul’, dan ‘inovatif’,” tukas Sihab.

Ia menjelaskan bahwa setiap program KKN harus berlandaskan nilai al-Qur’an, mencerminkan tradisi kepesantrenan, memiliki kualitas yang unggul, serta inovatif sesuai kebutuhan masyarakat. Contoh program antara lain pengajaran al-Qur’an, digital marketing syariah, kajian tafsir, hingga pesantren kilat berbasis kitab kuning. Program unggulan harus tetap didasarkan pada hasil survei kebutuhan masyarakat. Nilai-nilai tersebut kemudian diolah menjadi program yang baru, relevan, dan berdampak positif.
MATERI GAMBARAN LOKASI DAN ORIENTASI PROGRAM KKN
Materi berikutnya disampaikan oleh Ketua Panitia KKN, Muhammad Saifullah, M.A. Ia menjelaskan bahwa Bulurejo dan Bendung merupakan dua kelurahan yang berdampingan di Kecamatan Semin, dengan masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani dan pedagang. Keberagamaan di wilayah tersebut beragam, dengan komunitas Muslim mayoritas Muhammadiyah, serta keberadaan NU dan LDII.

“Semin itu wilayah spiritual. Biasanya, orang-orang dulu menjalani ritual ke Parangkusumo lewat sana, dan singgah di Masjid Bayat. Jadi, tempat kalian adalah kelindan antara Islam dengan kebudayaan kejawen. Hal ini di satu sisi menarik, namun di sisi yang lain tantangan,” ungkap Saiful.
Ia menegaskan bahwa tema besar program KKN mencakup pendidikan dan pelatihan keagamaan, pemberdayaan berbasis masjid, serta aplikasi hasil riset. Penyusunan program harus berbasis kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar formalitas laporan. Masyarakat diposisikan sebagai mitra yang terlibat dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari penyusunan pertanyaan, pengumpulan data, analisis, hingga evaluasi. Tujuan akhirnya adalah pemberdayaan.
MATERI ETIKA KKN
Materi tentang etika disampaikan oleh Ahmad Shofiyuddin Ichsan, M.A., M.Pd., bertema “Etika KKN dalam Koridor Nilai-nilai Kepesantrenan”. Shofi menekankan pentingnya akhlak dan nilai-nilai kepesantrenan sebagai landasan etika peserta KKN. Ia juga menjelaskan keberadaan tim etika kampus yang bertugas mengawasi dan menindak pelanggaran etika, termasuk yang terjadi di lokasi KKN.

Tim ini dibentuk setelah muncul satu pelanggaran etis beberapa tahun lalu, yang membuat pelakunya harus mengulang KKN pada periode berikutnya.
“Jadi, kalau ada di antara teman-teman peserta KKN yang melanggar kode etik peserta KKN akan ditindak oleh tim etika,” tegas Shofi.
“Bedanya KKN kalian dengan KKN kampus lain itu adalah bahwa kalian ini santri. Jadi, tidak hanya program-programnya yang bernapaskan nilai-nilai al-Qur’an dan kepesantrenan, tetapi juga cara berkomunikasi, berkendara, bertindak tanduk harus mencitrakan nilai-nilai itu,” tambahnya.
MATERI LUARAN KKN
Aini menjelaskan bahwa program kerja KKN terdiri atas program kelompok dan program individu. Program kelompok dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan bersama, sedangkan program individu direncanakan dan dijalankan oleh masing-masing peserta, meski boleh disusun bersama selama kontennya berbeda.
“Program kerja individu boleh direncanakan secara berkelompok, namun kontennya harus berbeda satu sama lain,” tukas Aini.

Ia menguraikan tiga jenis program: program utama yang wajib dan berbasis kompetensi studi; program penunjang yang fleksibel dan tidak dibatasi jumlahnya; serta program tambahan yang bertujuan memenuhi kebutuhan masyarakat, seperti kegiatan bersih kampung.
Dalam penyusunan program, peserta harus memperhatikan kejelasan tujuan, peluang kolaborasi dengan Pemda Gunungkidul atau instansi terkait, serta dampak positif jangka pendek maupun panjang. Aini kemudian memaparkan ketentuan pelaporan. Laporan individu dibuat oleh setiap peserta dan dilampirkan dalam laporan kelompok, berbentuk tabel yang memuat program, tahapan, sasaran, waktu, implikasi, serta dokumentasi atau tautan media sosial. Panjang maksimal laporan adalah lima halaman disertai curriculum vitae.
Untuk laporan kelompok, setiap kelompok wajib menyusun laporan kolektif sesuai sistematika yang ditetapkan, dijilid satu rangkap, dan diserahkan ke panitia setelah disahkan oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Laporan dapat berbentuk kualitatif atau kuantitatif, diketik 1,5 spasi, font Times New Roman 12, ukuran kertas kuarto dengan sampul hijau muda, dan diserahkan paling lambat dua hari sebelum ujian KKN berlangsung.
MATERI PELATIHAN FIQH WANITA DAN KHUTBAH JUM’AT
Sebagai KKN berbasis keagamaan, peserta juga mendapatkan pelatihan fiqh wanita dan khutbah Jum’at. Pelatihan fiqh wanita disampaikan oleh Dr. Lina, M.Pd., sementara pelatihan khutbah Jum’at dipandu oleh Dr. H. Khoirun Niat, M.A.

Ruang peserta dibagi dua: laki-laki diarahkan ke gedung 202 lantai 2 untuk latihan khutbah, sedangkan peserta perempuan mengikuti materi fiqh wanita di auditorium. Lina mengawali materi dengan penjelasan tentang darah haid, nifas, dan istihadah.
“Kalian sebagai santri harus memahami fiqh wanita karena nantinya selain mengadakan program pengajian, kalian juga bisa saja ditanya oleh masyarakat mengenai fiqh wanita. Kalau tidak paham, tentu akan malu,” tutur Lina.
Dalam pelatihan khutbah, Niat menjelaskan syarat, rukun, dan teori khutbah Jum’at, kemudian menyoroti hal-hal penting yang harus diperhatikan seorang khatib.

“Bagi teman-teman yang belum pernah menjadi khatib, KKN ini akan menjadi pengalaman pertama. Karena itu, kalian harus benar-benar siap. Sekarang diberikan latihan agar ketika sampai di lokasi nanti sudah mampu menjadi khatib yang sesungguhnya. Sesampainya di sana, kalian bukan lagi belajar, maka harus dilatih terus mulai sekarang,” cetus Niat. [MAF].