Wawancara Eksklusif: Dosen IIQ An Nur Yogyakarta Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia di Konferensi Jerman

WhatsApp Image 2026 07 12 at 13.15.47 1 - Wawancara Eksklusif: Dosen IIQ An Nur Yogyakarta Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia di Konferensi Jerman

BANTUL, NUR.ac.id—Prestasi membanggakan diraih oleh dosen Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta, Muhammad Saifullah, M.A. Ia diundang untuk mempresentasikan hasil penelitiannya dalam International Conference: Islam & Digitality: Media, Materiality, Hermeneutic yang diselenggarakan Goethe University Frankfurt, Frankfurt am Main, Jerman, pada 10–11 Juli 2026.

Konferensi tersebut mempertemukan para peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian di seluruh dunia yang meneliti hubungan antara Islam, teknologi digital, dan budaya media. Pembahasannya mencakup bagaimana ruang digital memengaruhi produksi pengetahuan keagamaan, budaya memori, pembentukan komunitas, hingga perubahan hermeneutika, otoritas keagamaan, dan praktik keislaman di era digital. Konferensi ini juga menghadirkan dua keynote speaker, yakni Sariya Cheruvallil-Contractor (Coventry University) dan Heidi Campbell (Texas A&M University).

Berikut wawancara NUR.ac.id bersama Muhammad Saifullah, M.A.

BACA JUGA:

“Santri Harus Go Internasional”: Wawancara dengan Julia Agustin tentang ICSM Batch 5 ASEAN
Meneroka Akar Kekerasan terhadap Perempuan: Potret dari Seri Diskusi Dosen IIQ An Nur Yogyakarta #1
Fiqh al-Bi’ah dalam Horizon Baru Etika Lingkungan Islam
Mendung di Langit Pamekasan: Ketika Sesama Ormas Muslim Tradisional Saling Jegal di Pentas Otoritas Keagamaan

NUR.ac.id: Kapan Bapak mengetahui informasi konferensi ini dan bagaimana proses hingga dinyatakan lolos?

Saifullah: Saya mengirim proposal sekitar September 2025. Kemudian pada bulan Ramadan 2026, tepatnya 19 Februari, saya menerima kabar bahwa proposal saya diterima.

NUR.ac.id: Bagaimana perasaan Bapak saat itu?

Saifullah: Tentu sangat senang. Awalnya saya mengira konferensinya akan dilaksanakan secara daring melalui Zoom. Ternyata panitia mengirim email bahwa seluruh peserta diundang hadir langsung di Jerman dengan biaya akomodasi ditanggung panitia. Hanya saja, untuk pengurusan visa dan beberapa keperluan perjalanan ke Jakarta tetap saya tanggung sendiri.

NUR.ac.id: Apakah persaingan untuk lolos cukup ketat?

Saifullah: Yang diterima sekitar 20 orang dari berbagai negara. Saya tidak tahu jumlah pendaftarnya, tetapi dari cerita beberapa peserta, banyak akademisi Islamic Studies dari Jerman, Inggris, dan negara lain yang juga mengirim proposal namun tidak lolos.

NUR.ac.id: Berarti Bapak menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia?

Saifullah: Alhamdulillah, iya. Saya menjadi satu-satunya peserta yang mewakili institusi dari Indonesia. Memang ada akademisi asal Indonesia lainnya, yaitu Nor Ismah, tetapi saat ini beliau sedang menjalani program postdoctoral di National University of Singapore sehingga mewakili institusi tersebut.

NUR.ac.id: Apakah ini kunjungan pertama Bapak ke Jerman?

Saifullah: Iya, ini pertama kalinya.

NUR.ac.id: Apa kesan pertama ketika tiba di Jerman?

Saifullah: Perasaannya campur aduk karena saya datang sendirian. Saya sudah tahu tujuan dan transportasi yang harus digunakan menuju Goethe University, tetapi sempat kebingungan mencari stasiun keretanya. Mau bertanya juga agak sungkan. Orang-orang di sana memang terkesan sibuk. Mereka tetap membantu ketika ditanya, tetapi jawabannya lebih singkat dibandingkan kebiasaan masyarakat Indonesia.

NUR.ac.id: Bagaimana pengalaman selama mengikuti konferensi?

Saifullah: Saya tiba hari Kamis pagi. Karena jadwal check-in hotel masih pukul tiga sore, saya menyewa sepeda dan berkeliling kota terlebih dahulu. Konferensi dimulai Jumat pukul 09.00 hingga malam. Yang menarik, keynote speaker tidak ditempatkan di awal acara, melainkan di tengah rangkaian konferensi sehingga menjadi penyegar setelah beberapa sesi panel berlangsung.

Saya sendiri mendapat jadwal presentasi pada hari Sabtu di panel terakhir. Selama dua hari itu memang banyak sesi panel, tetapi ada waktu untuk makan siang dan coffee break. Nah, momen-momen itulah yang kami manfaatkan untuk saling mengenal, berdiskusi, dan bertukar pengalaman dengan peserta dari berbagai negara.

NUR.ac.id: Apa judul penelitian yang Bapak presentasikan?

Saifullah: Quran Isyarat App: How Technology Shapes the Ways Deaf Muslims Recite the Quran and Experience Faith in Indonesia.

NUR.ac.id: Bisa dijelaskan secara singkat isi penelitian tersebut?

Saifullah: Penelitian ini berangkat dari studi etnografi yang saya lakukan di Pesantren Darul Ashom Yogyakarta. Saya ingin melihat bagaimana teknologi digital, khususnya aplikasi Qur’an Isyarat, memengaruhi cara Muslim Tuli (Deaf Muslim) mempelajari Al-Qur’an sekaligus membentuk pengalaman keberagamaan mereka.

Aplikasi ini menjadi media utama pembelajaran karena memuat terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa isyarat, video pembelajaran, dan panduan penggunaan. Para santri menggunakannya untuk menghafal bentuk isyarat huruf hijaiyah, memperbaiki bacaan (tahsin), hingga menambah hafalan.

Yang menarik, dalam tradisi Muslim Tuli, ukuran benar atau tidaknya bacaan bukan terletak pada suara, melainkan pada ketepatan posisi jari dan orientasi tangan. Sedikit saja gerakan meleset, maknanya bisa berubah sehingga bacaan dianggap tidak tepat. Karena itu, mereka meyakini bahwa ketepatan gerakan juga bernilai ibadah dan mendatangkan pahala.

Saya juga menemukan bahwa akses terhadap telepon seluler di pesantren dibatasi pada jam tertentu. Ketika tidak dapat mengakses aplikasi, sebagian santri merasa cemas karena tidak bisa memastikan apakah gerakan isyarat mereka sudah benar. Dari sini saya melihat bahwa aplikasi tersebut bukan sekadar alat belajar, tetapi juga menjadi medium yang memediasi pengalaman religius mereka.

Secara teoretis, penelitian ini menggunakan konsep sensational forms dan mediasi keagamaan dari Birgit Meyer untuk menjelaskan bagaimana teknologi digital dapat menghadirkan pengalaman terhadap firman Tuhan melalui medium visual. Temuan ini juga menunjukkan bahwa kajian Al-Qur’an tidak selalu harus berpusat pada suara, tetapi juga perlu memperhatikan dimensi visual dan material dalam kehidupan Muslim Tuli.

NUR.ac.id: Setelah bertemu para peneliti dari berbagai negara, bagaimana pandangan Bapak terhadap kualitas penelitian mereka?

Saifullah: Menurut saya, kualitas kita sebenarnya tidak kalah. Selama ini kita sering membayangkan akademisi Barat berada jauh di atas kita. Faktanya, Indonesia juga memiliki banyak peneliti Islamic Studies yang kapasitasnya sangat baik. Sekarang akses terhadap literatur dan sumber bacaan sudah semakin terbuka sehingga kesempatan berkembang menjadi lebih setara.

NUR.ac.id: Kalau begitu, di mana letak perbedaannya?

Saifullah: Perbedaan utamanya ada pada dukungan sistem. Mereka memiliki akses hibah penelitian yang jauh lebih besar, sementara di Indonesia pendanaan penelitian masih sangat terbatas dan harus diperebutkan. Apalagi setelah adanya efisiensi anggaran yang mengurangi berbagai program hibah.

Selain itu, sistem akademik mereka memang sangat mendukung peneliti. Mereka memiliki akses data yang lebih luas, kebebasan akademik yang lebih besar, serta dukungan administratif yang membuat peneliti dapat lebih fokus pada riset.

NUR.ac.id: Apa pesan Bapak bagi para peneliti Indonesia, khususnya di bidang Islamic Studies?

Saifullah: Jangan mudah merasa inferior terhadap Barat. Kita mampu bersaing dengan mereka jika terus meningkatkan kualitas penelitian. Bahkan, dalam beberapa hal kita memiliki keunggulan. Tradisi kajian Islam di Indonesia sangat kuat. Misalnya, banyak mahasiswa pascasarjana di Jerman yang masih mengandalkan teks terjemahan, sedangkan mahasiswa di Indonesia sejak jenjang sarjana sudah dibiasakan membaca sumber-sumber berbahasa Arab secara langsung. [MAF].