International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 5 telah diselenggarakan pada 6–12 Mei 2026 di tiga negara: Singapura, Malaysia, dan Thailand. Forum internasional ini menjadi ruang bagi santri Indonesia untuk berdialog, bertukar gagasan, serta memperkenalkan kontribusi pendidikan pesantren dalam konteks pendidikan global. Tahun ini, ICSM mengusung tema “Transforming Global Education through the Values of Pesantren Boarding School System.” Kegiatan ini diikuti oleh 48 santri dari berbagai daerah di Indonesia. Tiga di antaranya berasal dari Yogyakarta, salah satunya adalah Julia Agustin, S.Pd.
Julia—demikian ia biasa disapa—merupakan mahasiswa angkatan pertama (2025) Program Magister Pendidikan Agama Islam (M-PAI) Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta. Perempuan kelahiran tahun 2003 yang berasal dari Kota Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan ini sebelumnya menempuh pendidikan sarjana pada Program Studi PAI Fakultas Tarbiyah IIQ An Nur Yogyakarta. Saat lulus pada tahun 2025, ia tercatat sebagai wisudawan tercepat. Hingga kini, Julia masih melanjutkan proses penyelesaian hafalan Al-Qur’annya di Pondok Pesantren An Nur Ngrukem Bantul.
Lolosnya Julia sebagai peserta ICSM Batch 5 bukanlah perjalanan yang mudah. Dari total 216 pendaftar yang berasal dari berbagai pesantren, perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan ternama di seluruh Indonesia, Julia menjadi salah satu dari 48 peserta yang berhasil lolos seleksi. Ia mengikuti jalur self funded dengan melalui tahapan seleksi administrasi dan penulisan paper sebelum akhirnya dinyatakan diterima sebagai peserta ICSM Batch 5.

NUR: Bagaimana perasaan Julia setelah mengikuti ICSM Batch 5?
Julia: Senang sekali. Saya bisa mengenal banyak orang baru, baik sesama peserta ICSM Batch 5 yang berjumlah 48 orang maupun masyarakat dari Singapura, Malaysia, dan Thailand. Dari perjalanan ini, saya memperoleh banyak wawasan baru. Hal-hal yang sebelumnya tidak saya sadari, kini menjadi kesadaran baru bagi saya.
NUR: Bisa diceritakan bagaimana perjalanan selama mengikuti kegiatan tersebut?
Julia: Pada 6 Mei, kami berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, dan tiba di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysia. Negara pertama yang kami kunjungi adalah Singapura, kemudian Malaysia, dan terakhir Thailand. Saat kembali ke Indonesia, kami juga berangkat dari KLIA menuju Bandara Soekarno-Hatta pada 12 Mei.
NUR: Bagaimana pengalaman di Singapura?
Julia: Kami berada di Singapura hanya satu hari, pada 7 Mei. Di sana, kami mengunjungi Merlion Park, Singapore City Gallery, dan melakukan tur kampus ke National University of Singapore (NUS). Selain itu, kami juga berziarah ke makam Habib Nuh bin Muhammad al-Habsyi, seorang tokoh muslim Singapura yang dikenal sebagai wali keramat.
NUR: Apa saja kegiatan di NUS?
Julia: Kami mengikuti campus tour yang dipandu oleh pihak kampus. Rombongan diajak berkeliling untuk mengenal berbagai pusat kegiatan dan fasilitas penting di NUS. Kami juga mendapat penjelasan detail mengenai hal-hal yang penting diketahui publik internasional tentang kampus tersebut. Dalam hati, saya membayangkan, alangkah luar biasanya jika suatu saat IIQ An Nur dapat berkembang seperti NUS. Hehe.
NUR: Amin, semoga menjadi doa yang dikabulkan. Tidak ada yang tahu bagaimana perkembangan IIQ An Nur 20 atau 30 tahun mendatang. Lalu, bagaimana perjalanan berikutnya?
Julia: Setelah itu kami menuju Malaysia. Pada 8 Mei, kami mengunjungi percetakan Al-Qur’an Malaysia di Putrajaya, kemudian melanjutkan kunjungan ke International Islamic University Malaysia (IIUM) di Selangor. Sama seperti di NUS, kami diajak berkeliling kampus dan diperkenalkan dengan berbagai pusat kegiatan akademik yang ada di sana. Suasananya terasa lebih akrab dibandingkan dengan di NUS karena pemandu kami adalah mahasiswa IIUM asal Indonesia. Setelah itu, kami melakukan city tour di Kuala Lumpur. Kami berada di Malaysia selama dua hari hingga 9 Mei.
NUR: Apakah hanya itu kegiatan di Malaysia?
Julia: Tentu tidak. Justru acara puncak ICSM dilaksanakan di Malaysia, di aula hotel tempat kami menginap di Kuala Lumpur. Kegiatan tersebut bertajuk “Debate & FGD”. Seluruh peserta dibagi menjadi enam kelompok yang masing-masing terdiri atas enam hingga tujuh orang. Saya tergabung dalam Kelompok 5 bersama peserta dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Salatiga, IAI Al-Azhary Cianjur, dan MA Tebuireng. Kelompok kami dipimpin oleh Hayun Halimatul Umah dari UIN Sunan Gunung Djati.
NUR: Bagaimana pelaksanaan debatnya?
Julia: Keenam kelompok dibagi berpasangan untuk memperdebatkan satu tema tertentu. Satu kelompok bertindak sebagai pihak pro, sementara kelompok lain menjadi pihak kontra. Tema debat untuk Kelompok 1 dan 2 adalah “This House Believes that Pesantren Must Modernize to Compete in the Global Era.” Tema untuk Kelompok 3 dan 4 adalah “This House Believes that Islamic Boarding Education Is Important to Strengthen Muslim Youth Identity in Thailand.” Sementara, tema untuk Kelompok 5 dan 6 adalah “This House Believes that Traditional Religious Education in Brunei Should Be More Open to Global Innovation.”
Sebelum sesi Debate & FGD, kegiatan diawali dengan diskusi yang menghadirkan Ning Imaz Fatimatuz Zahra, Gus Rifqil Muslim Suyuthi, dan Gus Muhammad Adam Hakimi. Mereka membahas tema “Transforming Global Education through the Values of Pesantren Boarding Systems”.
NUR: Siapa yang menjadi pemenang dalam kegiatan tersebut?
Julia: Alhamdulillah, kelompok saya meraih predikat kelompok terbaik kedua. Sementara, juara pertama diraih oleh Kelompok 6.
NUR: Selamat, Julia. Lalu, bagaimana perjalanan di Thailand?
Julia: Pada 10 Mei, kami melanjutkan perjalanan ke Thailand. Di sana, kami mengunjungi Sholihuddin School di Sasanambarung, Thailand Selatan. Lembaga ini semacam pesantren. Di sini, orang-orang berbahasa Melayu, dan sangat akrab dengan tradisi pesantren karena ustadz-ustadznya banyak lulusan pesantren Indonesia. Setelah itu, kami ke Kaison dan pusat oleh-oleh, ke pasar terapung (floating market), dan malamnya ke Pasar ASEAN di Hat Yai, Songkhla. Besoknya kami melanjutkan perjalanan ke Sleeping Buddha, Samila Beach, dan Erawadee, sebuah produsen obat herbal dan kosmetik organik Thailand. Sore harinya, kami kembali menuju KLIA, lalu pada 12 Mei pulang ke Indonesia.
NUR: Pelajaran apa yang paling berkesan dari perjalanan ilmiah ke tiga negara tersebut?
Julia: Hikmah terbesar yang saya dapatkan adalah bahwa saat ini santri harus mulai merambah dunia internasional. Kita tidak boleh hanya berada dalam “tempurung” kita sendiri. Santri perlu menguasai bahasa Inggris sebagai sarana komunikasi internasional, di samping tetap menguasai bahasa Arab dan kemampuan membaca kitab kuning sebagai identitas utama pesantren. Potensi santri sebenarnya sangat besar, tetapi dunia internasional belum banyak mengenal kita karena kita mungkin masih lebih suka meringkuk dalam tempurung kita sendiri.
NUR: Apa harapan Julia untuk adik-adik di IIQ An Nur?
Julia: Kalian semua memiliki potensi besar. Jangan merasa minder hanya karena kampus kita tergolong kecil. Kalian adalah penghafal al-Qur’an, memahami al-Qur’an, sekaligus menguasai bidang keilmuan masing-masing sesuai program studi. Tidak semua kampus memiliki mahasiswa dengan keunggulan seperti itu. Tunjukkan kemampuan tersebut kepada publik, baik di tingkat nasional maupun internasional. Raihlah prestasi-prestasi internasional agar kampus kita semakin dikenal luas.
NUR: Ada kata-kata?
Julia: Ubah narasi dari “Aku harus melakukannya dengan sempurna” menjadi “Yang penting aku memulai dulu.” Sebab, kamu tidak harus menjadi hebat untuk memulai, tetapi kamu harus memulai untuk menjadi hebat. [MAF].