- IIQ An Nur Yogyakarta menggelar pembekalan dan bimbingan karier bagi calon wisudawan/wisudawati angkatan ke-18 dengan menghadirkan muslimah content creator peraih Best K-Influencer dari Korea Selatan.
- Calon lulusan didorong untuk berani berkiprah di berbagai bidang dengan tetap menjadikan nilai Al-Qur’an, akhlak, dan identitas keislaman sebagai kekuatan dalam menghadapi dunia profesional.
BANTUL, NUR.ac.id—Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta menggelar pembekalan dan bimbingan karier bagi calon wisudawan/wisudawati Program Sarjana Angkatan ke-18, Kamis (10/11/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian menuju wisuda tersebut menghadirkan muslimah content creator asal Bandung sekaligus pendiri Busyro Intensive Class, Maulidya Putri Aji, S.I.Kom.
Maulidya merupakan salah satu kreator yang pernah meraih predikat Best K-Influencer dalam program K-Influencer Academy dari Korea Selatan. Kehadirannya diharapkan dapat memberikan inspirasi dan wawasan kepada calon lulusan IIQ An Nur Yogyakarta dalam mempersiapkan diri memasuki dunia profesional.
Selain pembekalan dan bimbingan karier, kegiatan tersebut juga menjadi momentum pelepasan wisudawan/wisudawati Program Sarjana Angkatan ke-18 yang akan diwisuda pada Sabtu (12/11/2026). Mewakili Rektor IIQ An Nur Yogyakarta yang berhalangan hadir, Wakil Rektor I Bidang Akademik, Kelembagaan, Riset, dan Kemahasiswaan, Dr. Lina, M.Pd., secara resmi melepas para calon wisudawan/wisudawati.
“Dengan pembacaan bismillahirrahmanirrahim, saya secara resmi melepas para wisudawan/wisudawati IIQ An Nur Yogyakarta ke-18,” ucap Lina.
Lina menyatakan, masa kuliah selama empat tahun sejatinya baru merupakan tahap awal sebelum para mahasiswa memasuki kehidupan yang sesungguhnya. Menurutnya, setelah lulus, para alumni akan menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks karena kampus sejati adalah kehidupan itu sendiri.
“Kalau dulu kalian suka datang terlambat, tidak masuk kelas, tidak mengerjakan tugas, dan indisipliner lainnya, tetapi masih bisa lulus. Namun, besok, dalam perjuangan yang sesungguhnya, kalian tidak akan mudah lulus,” tuturnya.
Membawa Nilai Al-Qur’an ke Dunia Profesional
Pada sesi utama, Maulidya Putri Aji menyampaikan materi bertajuk “From Qur’an to Contribution: Membawa Nilai Al-Qur’an dari Pesantren ke Dunia Profesional.” Dalam paparannya, ia mengajak para calon lulusan untuk mengubah pandangan bahwa lulusan perguruan tinggi Islam hanya memiliki peluang menjadi ustadz atau ustadzah. Menurutnya, dunia sekarang terbuka. Lulusan pesantren dan perguruan tinggi Islam memiliki kesempatan berkiprah di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, dunia profesional, hingga menjadi content creator.
Meski demikian, Maulidya menyatakan bahwa lulusan perguruan tinggi Islam harus memiliki pembeda. Bukan hanya kompetensi profesional, tetapi juga nilai dan orientasi kebermanfaatan.
“Jika yang lainnya bekerja hanya sekadar demi gaji dan profesionalitas, lulusan kampus Islam dan pesantren seperti kalian harus diniati demi suatu makna, yakni kebermanfaatan. Pekerjaan harus diniati ibadah,” katanya.
Maulidya juga mengingatkan para calon lulusan agar tetap menjaga nilai-nilai keislaman ketika memasuki dunia luar kampus. Menurutnya, lingkungan kehidupan setelah lulus memiliki tantangan yang beragam sehingga diperlukan keteguhan iman dan konsistensi dalam menjalankan kebiasaan baik.
“Jangan tinggalkan shalat, meskipun di luar sana banyak orang meninggalkan salat. Istikamahlah mengaji Al-Qur’an dan jaga akhlak Qur’ani sebagaimana diajarkan di IIQ An Nur,” pesannya.
Jadikan Al-Qur’an sebagai Identitas
Maulidya selanjutnya mengajak para calon lulusan untuk mengenali potensi dan minat masing-masing dalam menentukan langkah karier. Ia mencontohkan dirinya yang memiliki ketertarikan pada Al-Qur’an, K-Pop, dan kehidupan muslimah, yang kemudian menjadi bagian dari identitas konten yang ia kembangkan.
“Saya yakin, kalian punya kelebihan. Kelebihan yang paling menonjol dari kalian adalah pintar membaca Al-Qur’an, mungkin malah hafal. Kalian juga paham agama. Jangan tinggalkan itu. Bahkan, lebih dari itu, jadikan itu identitas kalian,” ungkapnya.
Menurut Maulidya, lulusan IIQ An Nur Yogyakarta tidak perlu merasa rendah diri ketika bersaing dengan lulusan perguruan tinggi lain. Pendidikan Al-Qur’an, kemampuan membaca kitab kuning, akhlak, serta kapasitas akademik merupakan modal penting yang dapat menjadi keunggulan di dunia profesional.
“Jangan keder dengan lulusan kampus-kampus lain. Kalian belajar Al-Qur’an, bisa baca kitab kuning, bagus akhlaknya, dan punya kapasitas ilmiah. Itulah yang harus dijadikan sebagai sumber daya dalam menghadapi masa depan,” jelasnya.
Berani Memilih Jalan, Tetap Membawa Nilai
Maulidya juga membagikan pengalamannya sebagai content creator yang menerima banyak penghargaan, salah satunya K-Influencer. Menurutnya, salah satu hal yang membuatnya mampu menonjol adalah keberaniannya mempertahankan identitas sebagai seorang muslimah di tengah dunia konten yang sangat beragam. Baginya, identitas keislaman tidak harus menjadi penghalang untuk berkarya dan berkiprah di berbagai bidang. Sebaliknya, nilai-nilai tersebut dapat menjadi kekuatan dan pembeda.
“Silakan setelah lulus, kalian bisa melanjutkan S-2, magang, bekerja, menjadi content creator, atau apa pun. Namun, yang paling penting, apa pun yang kalian kerjakan harus bermanfaat bagi orang lain. Sebab, khairunnas anfa’uhum linnas,” pungkasnya. [MAF]