Bantul, 7 Mei 2026—Pimpinan Ma’had Al-Jami’ah Ulil Abshar Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo melakukan kunjungan ke Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta, Kamis (7/5/2026). Rombongan terdiri atas H. Zamzam Mustofa, M.Pd. (pengasuh putra), Ashwab Mahasin, M.H. (pengasuh putra), Siti Mariatul Kiptiyah, M.A. (pengasuh putri), Kurniawatri Safitri, M.E. (pengasuh putri), Dr. Aftonur Rosyad, M.Ud. (koordinator kurikulum), dan Bustanul Yuliani, M.Pd.I. (sekretaris).
Bertempat di Gedung Magister PAI IIQ An Nur Yogyakarta, rombongan disambut oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik Dr. H. Munjahid, M.Ag., Wakil Rektor II Bidang Administrasi dan Kepegawaian Drs. H. Atmaturida, M.Pd., Ketua Biro Humas dan Kerja Sama Braham Maya Baratullah, M.S.I., Koordinator Tahfidz dan Tahsin (TTQ) Bani Idris Hidayanto, M.H., serta dosen mata kuliah tahfidz al-Qur’an Fakultas Ushuluddin IIQ An Nur Yogyakarta, Khoirul Imam, M.Hum.
“IIQ An Nur dengan UIN Ponorogo itu bagaikan saudara. Dulu, sebelum mendirikan Magister PAI, kami melakukan studi tiru ke sana. Pak Mukhibat [Prof. Dr. Mukhibat, M.Ag.] yang sekarang jadi guru besar di UIN Ponorogo, pernah mengajar di sini kurang lebih 10 tahun,” ujar Munjahid dalam sambutannya.
“Monggo kita berdiskusi, sharing, dan saling memberi masukan. Alhamdulillah, program tahfidz di sini sudah memiliki kurikulum tersendiri. Jika ada ilmu dari sini yang bisa dikembangkan di sana, kami sangat bersyukur,” tambahnya.
Selanjutnya, Zamzam Mustofa memperkenalkan profil Ma’had Al-Jami’ah Ulil Abshar. Menurutnya, jumlah santri saat ini sekitar 400 orang. Namun, masa belajar santri hanya satu tahun. Dengan demikian, tahun depan santri tahun ini akan keluar dan digantikan oleh santri baru.
“Kami berharap nanti ada sharing dan diskusi karena kami ingin belajar dari panjenengan semua, utamanya seputar tahfidz al-Qur’an. Semoga pertemuan ini membawa berkah bagi kita semua,” ucapnya.
Pola Pembelajaran Tahfidz di IIQ An Nur Yogyakarta
Sebagai Koordinator TTQ, Bani Idris menjadi penyaji dalam pertemuan tersebut. Ia menguraikan tema seputar pembelajaran tahfidz dan tahsin al-Qur’an di lingkungan IIQ An Nur Yogyakarta. Ia mengatakan bahwa tahfidz merupakan mata kuliah wajib dengan beban 16 SKS (8 mata kuliah, dari Tahfidz 1 hingga Tahfidz 8) yang dijalani selama enam semester.
“Kami punya beberapa SDM. Tiap-tiap prodi memiliki setidaknya tiga dosen hafidz. Untuk setoran dan muraja’ah, kami memiliki delapan mustaqim, termasuk dari mahasiswa,” ujar Bani.
Karakteristik pembelajarannya, menurut Bani, berbasis target. Target idealnya, mahasiswa hafal 30 juz selama delapan semester, dengan empat juz per semester, kecuali semester delapan yang hanya dua juz. Sementara itu, target alternatifnya adalah mahasiswa hafal empat juz selama delapan semester atau setengah juz per-semester. Mahasiswa diberi kebebasan memilih, apakah menghafal juz 1 hingga juz 4 atau juz 27 hingga juz 30.
“Namun, ada beberapa mahasiswa yang sudah hafal 30 juz sebelum semester 8,” terang Bani.
Dalam pola pengajaran, mahasiswa tidak dapat naik target sebelum menyelesaikan kekurangan hafalan sebelumnya. Artinya, mahasiswa wajib melanjutkan target yang belum tercapai. Hal ini menjadi salah satu strategi agar hafalan mahasiswa terus meningkat dan tidak mengalami penurunan, misalnya dari juz 5 kembali ke juz 3.
Namun demikian, sistem pengajaran tetap adaptif terhadap kemampuan mahasiswa. Menurut Bani, hal ini diperlukan untuk menjaga keberlanjutan hafalan mereka. Jika mahasiswa merasa tertekan, semangat untuk melanjutkan hafalan akan berkurang dengan sendirinya.
“Apakah ada mahasiswa IIQ An Nur yang tidak lancar bacaan al-Qur’annya? Ada. Oleh karena itu, kami memiliki program tahsin, namun tidak dijadikan mata kuliah seperti halnya tahfidz. Program tahsin berada di luar kelas dengan tujuan membenarkan bacaan al-Qur’an mahasiswa, baik dari segi makhraj maupun tajwid,” jelas Bani.
Di samping memiliki kurikulum tersendiri, menurut Bani, tahfidz al-Qur’an di lingkungan IIQ An Nur Yogyakarta telah menjadi budaya. Karena itu, mahasiswa tidak merasa tertekan dengan adanya mata kuliah tahfidz karena keseharian mereka berada di lingkungan teman-teman yang sama-sama menghafal al-Qur’an.
“Hampir semua mahasiswa IIQ An Nur lulus sarjana dengan hafal al-Qur’an, baik 30 juz maupun 4 juz,” kata Bani. [MAF].