Bantul, 14 Februari 2026—Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta memperoleh kepercayaan dari Madrasah Aliyah Darul Qur’an (MA-DQ) Ledoksari, Kepek, Wonosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk menjadi tim penguji dalam program tahunan Seminar Tugas Akhir (STA).
Berdasarkan Surat Nomor 421.3/013.1/MA-DQ/II/2026, tim dari LPPM IIQ An Nur Yogyakarta dimohon untuk menjadi penguji dalam STA yang diselenggarakan pada 10–14 Februari 2026. Adapun tim penguji itu terdiri atas Dr. Abdul Jabpar, M.Phil., Dr. Subhan Ashari, Lc., M.Pd.I., Muhammad Arif Kurniawan, S.H.I., M.E.I., Muhammad Saifullah, M.A., Nur Aini, M.A., Maghfur MR, M.Ag., Bani Idris Hidayanto, M.H., Muchamad Mufid, M.Pd., Qowim Musthofa, M.Hum., serta Puji Solikhah, M.M.
STA merupakan program akademik tahunan MA-DQ. Madrasah yang didirikan oleh dosen IIQ An Nur Yogyakarta, almarhum Drs. KH. A. Kharis Masduki, M.S.I., tersebut memiliki program unggulan yang relatif jarang ditemui di tingkat sekolah menengah atas, yakni kewajiban bagi siswa kelas akhir untuk menyusun karya tulis ilmiah sebagai salah satu syarat kelulusan.
Sebelumnya, tim penguji STA berasal dari jajaran guru internal MA-DQ. Namun, sejak terjalinnya kerja sama antara MA-DQ dan IIQ An Nur Yogyakarta, tim peneliti dari LPPM IIQ An Nur Yogyakarta turut dilibatkan sebagai penguji eksternal.
Ketua LPPM IIQ An Nur Yogyakarta, Muhammad Saifullah, M.A., mengapresiasi pelaksanaan program STA tersebut. Menurutnya, kualitas karya ilmiah para siswa banyak yang melampaui ekspektasi.
“Kita sering terperangah melihat hasil penelitian siswa MA yang sudah tampak seperti penelitian profesional. Subjek maupun metode yang mereka gunakan beberapa telah melampaui standar pengetahuan yang lazim dikuasai siswa MA,” ujarnya.
Ia mencontohkan sejumlah tema yang diangkat siswa, mulai dari pemikiran Émile Durkheim, Marcel Mauss, penafsiran Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi, hingga kajian tentang rekayasa genetika, oksidasi enzimatik, dan bakteri fotosintesis.
“Saya selalu meyakini, dalam konteks penelitian, yang lebih relevan dibicarakan adalah level kompetensi, bukan usia biologis. Sebab, jika diarahkan dengan tepat, siswa MA atau SMA berpotensi menjadi peneliti yang andal dan profesional,” tandasnya. [MAF].