Bantul, 25 Mei 2026—Subdirektorat Penelitian, Publikasi Ilmiah, dan Pengabdian kepada Masyarakat (Subdit Litapdimas) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) melakukan kunjungan ke Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta pada Senin (25/5/2026). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka monitoring dan evaluasi (monev) terhadap para penerima bantuan Litapdimas di lingkungan IIQ An Nur Yogyakarta.
Kegiatan monev yang berlangsung di Gedung Pascasarjana IIQ An Nur Yogyakarta itu dilakukan oleh tim Subdit Litapdimas Kemenag RI yang terdiri atas Agus Fatkhullah, S.Sos., M.M., Ika Lusiawati, S.E., M.M., dan Dedy Abdillah, S.Ag., M.M.
Dari pihak IIQ An Nur Yogyakarta hadir Wakil Rektor I Bidang Akademik, Dr. H. Munjahid, M.Ag., Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Muhammad Saifullah, M.A., Ketua Biro Humas dan Kerja Sama, Braham Maya Baratullah, M.S.I., serta para dosen dan peneliti penerima bantuan Litapdimas Kemenag RI tahun 2025.
Dalam sambutannya, Munjahid berharap kunjungan tim Subdit Litapdimas juga menjadi ruang dialog untuk membangkitkan kembali semangat meneliti dan melakukan pengabdian kepada masyarakat, khususnya bagi dosen muda IIQ An Nur Yogyakarta.
“Dulu, proposal penelitian dan pengabdian di IIQ An Nur sempat melimpah. Namun, belakangan saya melihat jumlahnya mulai berkurang. Salah satu penyebabnya mungkin karena adanya pemangkasan dana penelitian. Karena itu, meskipun kegiatan ini merupakan momen monev Litapdimas, saya berharap ini juga menjadi momentum untuk memompa kembali semangat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di masa depan, terutama bagi para dosen muda,” ujar Munjahid.
Selanjutnya, Munjahid memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi para peneliti di lingkungan IIQ An Nur Yogyakarta. Hal tersebut mendapat tanggapan positif dari Agus Fatkhullah. Menurutnya, pemahaman terhadap persoalan yang dihadapi peneliti di tingkat akar rumput penting untuk menentukan strategi pembinaan yang tepat dari pihak Subdit Litapdimas.
“Saya sangat senang jika PTKIS (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta) maju. Kalau kampus umum maju, itu sudah biasa. Namun, jika PTKIS yang berkembang, itu menjadi sesuatu yang luar biasa dan membahagiakan bagi saya pribadi. Mari kita tingkatkan penelitian. Kami akan mendukung agar semakin mudah bagi kita dalam meningkatkan jenjang kepangkatan akademik,” kata Agus.
Agus juga mengajak para peneliti IIQ An Nur Yogyakarta agar memperkuat riset, tidak hanya ketika memperoleh bantuan pendanaan. Menurutnya, berpikir, menulis, dan meneliti merupakan karakter utama seorang akademisi.
“Tulislah gagasan-gagasan terbaik bapak dan ibu, meskipun tanpa bantuan dana. Sebab, pemikiran yang dituliskan akan menjadi poin penting bagi seorang akademisi dalam membangun rekam jejak yang baik. Dalam memberikan bantuan, kami tidak hanya melihat substansi penelitian, tetapi juga rekam jejak penelitinya,” tambahnya.
Sementara itu, sesi monitoring dan evaluasi teknis dipandu oleh Ika Lusiawati. Dalam paparannya, ia menjelaskan berbagai aspek yang berkaitan dengan output dan outcome penelitian. Selain itu, ia juga memantau perkembangan penelitian para penerima bantuan Litapdimas tahun 2025 serta mengevaluasi berbagai hal yang perlu dibenahi maupun dikembangkan ke depan. [MAF].