Gunungkidul, 26 Januari 2026— Suara tawa anak-anak memecah keheningan sore di Padukuhan Gobeh, Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul. Di pinggir jalan desa, beberapa anak tampak antusias menaiki egrang bambu, sementara lainnya berlarian memainkan gobak sodor. Di dalam rumah Kepala Dukuh Gobeh, Irwan Agus Nugraha, sekelompok anak tak kalah riuh memainkan dam-daman dan bola bekel. Sementara itu, di halaman rumah, anak-anak lain asyik melompat tali secara bergantian.
Pemandangan tersebut terasa istimewa. Di tengah arus teknologi yang kian deras dan dominasi gawai di kehidupan sehari-hari, permainan tradisional kembali menemukan ruangnya. Suasana hangat ini merupakan bagian dari rangkaian program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta yang tengah melaksanakan pengabdian di Padukuhan Gobeh.
“Ini termasuk program unggulan kami. Jadi, program unggulan KKN di Padukuhan Gobeh ada dua, yaitu pelestarian dolanan anak dan program go green melalui pemanfaatan lahan pekarangan rumah warga untuk ditanami tanaman cabai,” ujar Ketua KKN Kelompok Gobeh, Barra Naufal.
Kegiatan KKN ini, lanjut Naufal, dirancang sebagai wujud kontribusi mahasiswa dalam mendukung pembangunan sosial, budaya, dan lingkungan di tingkat pedukuhan. Dua program unggulan tersebut lahir dari kegelisahan yang sama, yakni lunturnya budaya lokal serta menurunnya kepedulian terhadap lingkungan akibat perubahan gaya hidup, terutama sejak hadirnya smartphone di kehidupan anak-anak dan keluarga.
Pelestarian Dolanan Anak
Pelestarian permainan tradisional menjadi langkah awal yang menyentuh langsung kehidupan anak-anak Padukuhan Gobeh. Dengan dukungan penuh dari Kepala Dukuh Gobeh serta Karang Taruna setempat, mahasiswa KKN bersama warga bergotong royong membuat berbagai alat permainan tradisional seperti egrang, lompat tali, dam-daman, bola bekel, hingga gangsing.
“Anak-anak tidak hanya sekadar bermain. Sambil bermain, mereka juga diajak mengenal kembali nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, dan kejujuran yang terkandung dalam permainan-permainan tersebut,” ujar Wakil Ketua KKN Kelompok Gobeh, Zulfa Khoirunisa.
Orang tua pun menyambut kegiatan ini dengan rasa syukur. Mereka melihat perubahan positif pada anak-anak yang mulai mengurangi waktu bermain gawai dan lebih sering berinteraksi dengan teman sebaya. Permainan tradisional menjadi jembatan yang mempererat hubungan antargenerasi, sekaligus menghadirkan kembali kenangan masa kecil para orang tua.
“Kalau main dolanan seperti ini, anak-anak tidak mengurung diri di rumah sambil mantengin HP. Mereka jadi lebih gayeng dengan teman-temannya. Kami sebagai orang tua juga bisa ikut nimbrung, karena dulu ini memang permainan kami,” tambah Humas KKN Kelompok Gobeh, Dwi Gunawan.

Penghijauan dan Ketahanan Pangan
Mahasiswa KKN juga mengajak warga Padukuhan Gobeh untuk lebih peduli terhadap lingkungan melalui program go green. Program ini berfokus pada pemanfaatan lahan pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga. Bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) dan masyarakat setempat, mahasiswa mengawali kegiatan dengan sosialisasi tentang pentingnya ketahanan pangan dan lingkungan hijau.
“Pertama-tama kami mengadakan sosialisasi mengenai pentingnya relasi antara ketahanan pangan dan lingkungan hijau, terutama untuk menghadapi masa mendatang. Setelah itu, kami mendistribusikan bibit tanaman kepada warga,” jelas Bendahara KKN Kelompok Gobeh, Kuni Farida Aini.
Bibit tanaman berupa tomat, cabai rawit, cabai keriting, dan terong dibagikan kepada warga untuk ditanam di pekarangan masing-masing. Selain itu, deretan bunga matahari ditanam di sepanjang jalan padukuhan sebagai upaya memperindah dan menghijaukan lingkungan padukuhan. [MAF].