- IIQ An Nur Yogyakarta menggelar kuliah umum bagi mahasiswa baru angkatan 2026. Kegiatan ini menghadirkan Staf Khusus Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) RI, Dr. Achmad Maulani, M.Si.
- Mahasiswa didorong berperan sebagai agen perubahan sosial melalui kapasitas akademik, aktivisme, dan jejaring sosial.
BANTUL, NUR.ac.id—Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta menyelenggarakan kuliah umum bagi mahasiswa baru (Maba) angkatan 2026 pada Jumat (25/9/2026). Kegiatan tersebut digelar setelah pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang berlangsung pada 22–24 September 2026.
Kuliah umum yang digelar di Auditorium IIQ An Nur Yogyakarta tersebut mengusung tema “Agama, Pendidikan, dan Ekonomi untuk Kesejahteraan: Menguatkan Peran Mahasiswa sebagai Agen Perubahan Sosial”. Sebagai narasumber, IIQ An Nur Yogyakarta menghadirkan Staf Khusus Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia (Kemenko PM RI), Ketua Komite Pemberdayaan Sosial Ekonomi Masyarakat Berbasis Pesantren, Dr. Achmad Maulani, M.Si.
Dalam sambutannya, Rektor IIQ An Nur Yogyakarta, Dr. Ahmad Sihabul Millah, M.A., mengatakan bahwa kuliah umum tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa baru dalam memasuki dunia perkuliahan dan kemahasiswaan. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami identitas dan perannya sebagai agen perubahan sosial.
“Bapak Maulani sangat layak untuk membicarakan tentang kemahasiswaan dan kesejahteraan. Dulu, saya mengenal beliau waktu menjadi mahasiswa, belum sejahtera. Tapi, beliau seorang aktivis dan penulis. Lama tidak ketemu, banyak perubahan. Beliau sudah bukan lagi beliau yang dulu. Kini, beliau telah sejahtera, dan bahkan menjadi Ketua Komite Pemberdayaan Sosial Ekonomi Masyarakat Berbasis Pesantren,” ujar Sihab.
Kuliah umum tersebut dimoderatori Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IIQ An Nur Yogyakarta, Muhammad Arif Kurniawan, M.E.I. Dalam pemaparannya, Maulani mengatakan bahwa mahasiswa merupakan identitas yang unik. Di satu sisi, mereka merupakan bagian dari masyarakat, tetapi di sisi lain mereka menjadi kelompok yang diharapkan mampu mengawal dan mengontrol jalannya negara.
“Mahasiswa itu elit kecil. Mereka mampu melakukan mobilisasi sosial. Oleh karenanya, nasib rakyat bergantung kepada mereka karena mereka merupakan entitas yang mampu melakukan perubahan skala besar,” kata Maulani.
Menurut Maulani, mahasiswa memiliki kapasitas untuk turut memengaruhi kebijakan negara. Perubahan sosial dan politik, kata dia, dapat dilakukan melalui berbagai saluran, di antaranya aktivisme politik, penyampaian gagasan melalui tulisan, serta keterlibatan langsung dalam kehidupan masyarakat.
Oleh karena itu, Maulani berpesan agar mahasiswa tetap harus prestasi akademik, tetapi jangan lalai untuk turut dalam organisasi dan berbagai kegiatan kemahasiswaan. Menurutnya, kesejahteraan setelah lulus kuliah tidak hanya ditentukan oleh bidang keilmuan yang dipelajari di program studi, tetapi juga dapat ditopang oleh jejaring yang dibangun sejak menjadi mahasiswa.
“Masukilah kantong-kantong sosial. Ikuti organisasi, ikut lomba, berjejaringlah dengan orang-orang keren. Bangunlah jaringan sejak kalian jadi mahasiswa di IIQ An Nur ini. Sebab, jaringan itulah yang berperan penting bagi kalian di masa depan,” ucap Maulani. [MAF].