Bantul, 15 Desember 2025—Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta sejak awal menaruh perhatian besar pada isu-isu ekologi. Ekoteologi—cabang ilmu yang mengkaji relasi antara agama dan lingkungan—menjadi salah satu fokus kajian dan penelitian para dosen di lingkungan kampus tersebut. Komitmen ini antara lain tercermin dalam karya Rektor IIQ An Nur Yogyakarta, Dr. Ahmad Sihabul Millah, M.A., yang pada 2023 menerbitkan buku Green Islam: Counter Discourse terhadap Konsep Ekologi Kapitalisme Lanjut.
Perhatian ini pula yang mendorong IIQ An Nur Yogyakarta mendatangkan pengasuh sekaligus pendiri Pesantren Ekologi Ath Thariq Garut, Nyai Nissa Wargadipura, untuk memberikan kuliah umum bertajuk “Gerakan Ekopesantren dalam Pelestarian Alam” pada Selasa (16/12/2025). Nyai Nissa merupakan tokoh yang diakui secara internasional sebagai FAO Heroes atau Pahlawan Pangan Dunia, sebuah penghargaan dari Badan PBB Urusan Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) yang dianugerahkan pada 2024 di Roma, Italia.
Kuliah umum yang berlangsung di auditorium kampus tersebut dihadiri puluhan mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan (tendik) IIQ An Nur Yogyakarta. Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Bidang Akademik, Dr. H. Munjahid, M.Ag., menegaskan bahwa kehadiran Nyai Nissa merupakan momentum penting bagi sivitas akademika untuk menumbuhkan kepedulian ekologis.
“Tolong disimak dengan sungguh-sungguh kuliah dari Ibu Nyai Nissa. Jika perlu, dicatat agar tidak pernah lupa. Sebab, nasib lingkungan ada di tangan kalian. Masa depan bumi bergantung pada kepedulian generasi kalian ini,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Ahmad Sihabul Millah, M.A., yang hadir sebagai keynote speaker, mengaku telah lama mengenal Nyai Nissa melalui praktik dan pemikirannya. Ia menyebut bahwa Pesantren Ath Thariq menjadi basis inspirasi dalam penulisan bukunya Green Islam, sekaligus memengaruhi riset-risetnya tentang ekoteologi dan ekofeminisme.
“Bu Nyai Nissa adalah salah satu sosok yang paling menginspirasi saya. Sejak 2008, beliau sudah membicarakan sekaligus mempraktikkan ekopesantren, jauh sebelum istilah ekopesantren dikenal luas,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Nyai Nissa menyampaikan apresiasinya kepada Rektor IIQ An Nur Yogyakarta. Ia menyebut bahwa karya-karya akademik Sihabul Millah turut memperkenalkan Pesantren Ath Thariq ke ruang publik ilmiah.
“Pesantren kami kecil. Santrinya hanya sekitar 30 orang. Namun, berkat karya Mas Sihab, pesantren kami banyak dijadikan rujukan dalam penelitian dan karya ilmiah. Oleh karena itu, bagi kami, Mas Sihab ini merupakan ‘sayap’ dari Pesantren Ath Thariq,” tuturnya.
Gerakan Ekopesantren Ath Thariq
Dalam pemaparannya, Nyai Nissa menjelaskan konsep dan praktik ekopesantren yang dikembangkan di Pesantren Ath Thariq. Selain mengaji, para santri dibekali pengetahuan pertanian ekologi berbasis kearifan lokal Sunda melalui sistem leuweung. Sistem ini menitikberatkan pada keseimbangan alam, tanpa penggunaan bahan kimia, dengan tujuan menjaga kesehatan tanah, kebersihan air, serta ketahanan tanaman terhadap penyakit.
Para santri menanam sendiri kebutuhan pangan mereka di lahan seluas 7.500 meter persegi. Hasil panen yang berlebih dijual untuk menopang perekonomian pesantren, sementara sebagian lainnya—seperti cabai dan tomat—diolah menjadi produk bernilai tambah melalui unit usaha pesantren. Selain itu, Pesantren Ath Thariq juga mengembangkan penjualan tanaman obat serta membangun perpustakaan benih sebagai sumber pembelajaran.
Nyai Nissa menegaskan bahwa pesantrennya memiliki kesadaran kritis terhadap isu pangan. Para santri dididik untuk menghindari makanan ultra-proses dan produk berbahan kimia yang berpotensi merugikan kesehatan tubuh dan lingkungan.
Ia juga mengkritik budaya konsumsi modern yang, menurutnya, berkontribusi pada lemahnya ketahanan fisik dan mental generasi muda. Fenomena demikian kini disebut sebagai generasi “stroberi”, yakni generasi yang tampak segar, tetapi rapuh menghadapi tekanan.
“Kalian mengonsumsi dan memakai banyak produk pabrikan bukan sepenuhnya atas kehendak sendiri, melainkan karena bujuk rayu kapitalisme. Yang dipikirkan oleh kaum kapitalis hanya keuntungan, bukan kesehatan manusia. Anehnya, kaum ini dilindungi bahkan disokong oleh negara,” ujarnya.
Lebih lanjut, Nyai Nissa menyatakan bahwa upaya menghadapi krisis iklim tidak selalu harus melalui gerakan besar yang rumit. Menurutnya, perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana dan personal.
“Untuk menyelesaikan bencana global, selesaikan dulu di tubuh kalian,” tegasnya.
Ia mengajak peserta untuk lebih bijak dalam memilih apa yang dikonsumsi dan digunakan, mengurangi produksi sampah, menerapkan prinsip zero waste (nir-sampah), serta menekan penggunaan listrik dan kendaraan bermotor. Berjalan kaki, bersepeda, dan membatasi penggunaan gawai juga disebutnya sebagai bagian dari praktik hidup ramah lingkungan. [MAF].