Bantul, 08 Januari 2026—Kamis (08/01/2026) siang itu, halaman kampus Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta mendadak ramai. Suara ingar mencuat dari sound system. Suara yang terdengar tidak asing. Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin, Reinaldy Dwi Mauladi, terdengar bersahutan dengan Chalista Putri Agustin. Ya, tidak salah lagi. Tampak mereka sedang mengajak pengunjung untuk membeli satu-dua macam makanan, bersahut kata dengan teman sejawat, lalu disambut oleh banyak mahasiswa lain dalam deru suara penuh suka cita.
Rupanya, keramaian itu berasal dari acara Foodfest yang digelar oleh mahasiswa Fakultas Ushuluddin IIQ An Nur Yogyakarta, khususnya dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) serta Program Studi Ilmu Hadis (ILHA). Foodfest ini diselenggarakan sebagai bagian dari praktik mata kuliah kewirausahaan semester lima.
“Mahasiswa Ushuluddin itu tidak harus jadi kiai semua, tidak harus jadi ustadz, tidak harus jadi akademisi ataupun peneliti. Kalian bisa juga jadi pedagang atau pengusaha. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu pedagang, dan beliau kaya,” ucap Rektor IIQ An Nur Yogyakarta, Dr. A. Sihabul Millah, M.A., dalam kata sambutan.
Dalam perwujudannya, mahasiswa kewirausahaan menggandeng mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Tampak Ketua DEMA FEBI, Putra Amaliyansyah, bersama rekan-rekannya, sibuk melayani pelanggan di stan mereka. Hal ini disampaikan oleh Dekan Fakultas Ushuluddin, H. Muhammad Ikhsanudin, M.S.I., dalam sambutannya.
“Saya mengapresiasi Ibu Nur Aini yang telah menjadi motor bagi suksesnya kuliah praktik kewirausahaan ini. Saya juga mengapresiasi teman-teman mahasiswa Ushuluddin, juga FEBI. Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Pak Rektor, bahwa kalian, meskipun mahasiswa Ushuluddin, harus punya mental pedagang. Sebab, Syaikh Abu Bakar Syatha menyatakan bahwa perdagangan itu membuka 9/10 pintu rezeki,” tutur Ikhsanudin.
Sihab dan Ikhsanudin menyampaikan kata sambutan mereka setelah dosen pengampu mata kuliah kewirausahaan, Nur Aini, M.A., terlebih dahulu memberikan sambutan. Ia menyampaikan pidato yang komprehensif dan mengharukan. Berikut ini kutipan verbatim dari sambutan tersebut yang berhasil kami catat:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Expo (baca: Foodfest) ini sebenarnya adalah cerita panjang dari satu semester perjalanan mata kuliah kewirausahaan. Jadi, bukan sekadar ajang pameran produk dan bukan hanya sekadar acara seremonial semata. Sebelum sampai di titik hari ini, teman-teman sudah mencoba menjalankan praktik bisnis minggu demi minggu, mulai dari memikirkan ide bisnis, bagaimana memproduksinya, bagaimana mempromosikannya, sampai dengan bagaimana menjual produk-produk tersebut. Kami menargetkan minimal ada enam kali laporan produksi, promosi, dan penjualan.
Dalam praktik yang berjalan, ada yang lancar, ada yang sepi pembeli, ada yang harus ganti produk, ada yang mengalami kerugian di awal-awal praktik, tetapi semua itu adalah bagian penting dari proses belajar. Sebab, kita ketahui bersama bahwa dalam berwirausaha, teori itu tidak semudah praktik.
Untuk menuju wirausahawan sukses, tentu ada tantangan-tantangan, bahkan kegagalan-kegagalan, yang pernah dialami oleh seorang wirausahawan. Itulah letaknya pembelajaran kewirausahaan. Kita dituntut untuk belajar cepat mengambil keputusan di tengah-tengah tantangan atau kesulitan yang dihadapi.
Sebelum teman-teman melakukan praktik, terlebih dahulu kita membekali teman-teman dengan teori kewirausahaan. Kita mengenalkan berbagai macam model bisnis, salah satunya model BMC (Business Model Canvas) milik Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur. Model ini terdiri atas sembilan elemen kunci dalam berbisnis, yaitu customer segments, value proposition, channels, customer relationship, revenue streams, key activities, key resources, key partnerships, dan cost structure. Seluruh elemen ini kemudian dipraktikkan dalam masing-masing kelompok praktik bisnis mahasiswa. Dalam satu semester mata kuliah kewirausahaan ini, kami membekali teman-teman dengan dua kompetensi utama, yaitu kompetensi teoritis dan praktis.
Nilai-nilai kewirausahaan yang dipelajari dan dipraktikkan di Fakultas Ushuluddin tentu sangat selaras dengan nilai-nilai keprodian di ILHA dan IAT. Mahasiswa IAT, melalui kajian al-Qur’an dan tafsir, diajak menghadirkan nilai kebermanfaatan dan kemaslahatan bagi umat. Sementara, mahasiswa ILHA, melalui kajian hadis, diajak meneladani akhlak Rasulullah Saw., seperti kejujuran, amanah, dan profesionalitas. Bisa dikatakan, kewirausahaan adalah cara lain bagi kalian untuk menghidupkan nilai-nilai keushuludinan yang kalian pelajari.
Kalau kita melihat sejarah, banyak tokoh dan ulama besar yang juga punya jiwa wirausaha. Salah satunya adalah Abdurrahman bin Auf Ra., yang memulai hidup di Madinah tanpa harta, namun bangkit melalui kejujuran dan kerja keras hingga menjadi pengusaha sukses dan dermawan. Kita juga mengenal Imam Abu Hanifah, seorang ulama besar yang berprofesi sebagai pedagang. Kemandirian ekonomi menjadi penopang kebebasan dan integritas keilmuannya.
Sebagai dosen pengampu, harapan ibu sederhana saja: tidak semua harus jadi pengusaha atau menjadi wirausahawan, tetapi semoga semua memiliki mental kewirausahaan, yakni mandiri, berani mencoba, jujur, dan tidak mudah menyerah. Pengalaman satu semester ini semoga menjadi bekal berharga, apa pun jalan hidup yang nanti kalian pilih.
Selanjutnya, ibu mengapresiasi kesungguhan dan kerja keras mahasiswa ILHA dan IAT yang dalam hal ini dikomandoi oleh Mbak Challista sebagai ketua panitia expo. Melalui kegiatan ini, kita berharap mahasiswa tidak hanya kuat secara akademik dan keilmuan keislaman, tetapi juga memiliki jiwa mandiri, kreatif, dan berani mencoba. Dalam kesempatan ini pula, kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dari FEBI yang berkenan berkolaborasi untuk memeriahkan expo kewirausahaan mahasiswa kali ini. Semoga di tahun mendatang tidak hanya satu stan yang bisa ikut expo, tetapi bisa lebih banyak lagi.
Akhir kata, semoga expo kewirausahaan ini dapat memberikan pengalaman berharga. Tidak hanya sekadar menjadi tugas akhir mata kuliah, tetapi juga menjadi awal tumbuhnya semangat mandiri, kreatif, dan berorientasi manfaat bagi mahasiswa ILHA dan IAT.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh