“Salah satu indikator keberhasilan KKN adalah ketika pada saat penarikan, warga menangis melepas kepergian mahasiswa.”
Gunungkidul, 21 Januari 2026—Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Rektor I Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta, Dr. H. Munjahid, M.Ag., dalam sambutannya pada acara “Pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke-22 IIQ An Nur Yogyakarta Tahun Akademik 2025/2026” yang digelar pada Selasa (25/11/2025) lalu.
Lebih dari 40 hari berselang, pernyataan tersebut seolah menemukan pembenarannya, tatkala mahasiswa KKN ke-22 resmi ditarik pada Rabu (21/01/2026). Acara resmi penarikan tersebut dilaksanakan di Kantor Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul. Hadir pada acara resmi ini 14 dukuh di Kalurahan Bulurejo dan Bendung, Kapanewon Semin, yang menjadi lokasi KKN. Keempat belas padukuhan itu meliputi Gobeh, Grogolan, Karangasem, Taunan, Keringan Kidul, Keringan Lor, Keringan Wetan, Bulurejo, Dawe, Dringo, Garotan, Banyu Kendil, Widoro Lor, dan Widoro Kidul. Itu semua merupakan KKN Reguler. Ada pula KKN Mandiri, hanya satu kelompok, mengabdi di Kompleks Attariq Pondok Pesantren An Nur Ngrukem, Padukuhan Juron, Kalurahan Pendowoharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul.
Selain itu, hadir pula Panewu Semin Dasno, S.I.P., M.M., Panewu Anom Suharyanta, S.K.M., M.M., perwakilan Koramil 06 Semin Pelda Jumadi, Kapolsek Semin AKP Wasdiyanto, S.H., M.A.P., Lurah Bulurejo Lampito, Lurah Bendung Didik Rubiyanto. Juga, sivitas akademik IIQ An Nur Yogyakarta, termasuk rektor, wakil rektor, dekan, dosen pembimbing lapangan (DPL), mahasiswa KKN, dan jajaran panitia KKN yang diketuai Ketua LPPM IIQ An Nur Yogyakarta, Muhammad Saifullah, M.A.
Tangisan Warga
Salah satu peristiwa yang mengharukan terjadi di kelompok Padukuhan Gobeh, tatkala DPL Kelompok Gobeh, Ali Mustaqim, M.Pd.I., memamitkan mahasiswa KKN bimbingannya di rumah Kepala Dukuh Gobeh, Irwan Agus Nugraha.
“Terima kasih kepada Bapak Dukuh, Ibu Dukuh, Ibu Sukini, dan keluarga besar yang telah ngerumati mahasiswa kami. Kami juga mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila selama KKN terdapat kesalahan dan kekhilafan, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Pada kesempatan ini, kami mau memamitkan mahasiswa kami untuk kembali ke kampus,” ujar Ali.
Suasana haru pun tak terelakkan. Mata Ibu Dukuh Gobeh, Rusti Triwahyuni, dan ibunda Irwan, Sukini, tampak memerah dan berkaca-kaca. Beberapa mahasiswa terlihat menahan air mata, bahkan seorang mahasiswa memeluk Rusti sambil menahan tangis. Menurut penuturan mahasiswa, selama lebih dari 40 hari pengabdian di Gobeh, kebutuhan sehari-hari mereka—mulai dari makan hingga keseharian—banyak dibantu oleh Rusti dan Sukini.

“Program-program yang dijalankan mahasiswa KKN di sini berjalan sangat baik, bahkan melebihi ekspektasi kami. Mereka dekat dengan masyarakat. Kehadiran mereka disambut dengan suka cita. Mereka telah berperan menghidupkan kegiatan keagamaan di Gobeh, bahkan menghadirkan program-program baru yang sebelumnya tidak ada. Kami berharap tahun depan KKN IIQ An Nur bisa kembali ditempatkan di sini.,” tutur Irwan.
“Sungguh disayangkan mereka harus ditarik. Namun, kami memahami ini sudah menjadi ketentuan. Kami juga berpesan kepada teman-teman KKN, kabari kami ketika sudah sampai di rumah masing-masing. Jangan lupa, kalau ada kesempatan, silaturahmi ke sini lagi. Mau menginap pun monggo,” imbuhnya.
Air mata Rusti, Sukini, serta sejumlah mahasiswa nyaris tak terbendung. Momen tersebut seolah menjadi “pembenaran” atas pernyataan Munjahid, bahwa kehadiran mahasiswa KKN selama 40 hari telah meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat. Tidak hanya di Gobeh, suasana serupa juga terjadi di hampir seluruh lokasi KKN di Kalurahan Bulurejo dan Bendung.
Meidina
Salah satu mahasiswa KKN, Meidina Hafzi, yang berasal dari Medan, dipercaya panitia untuk menyampaikan sambutan mewakili mahasiswa KKN pada acara penarikan tersebut.
“Awalnya, saya merasa tidak mudah beradaptasi karena perbedaan bahasa, tradisi, dan budaya. Namun, seiring waktu, saya bisa melebur dengan masyarakat. Hal ini tidak lepas dari penerimaan warga yang hangat dan ramah kepada kami. Sangat mengesankan. Pengalaman ini tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Saya pribadi mendapatkan begitu banyak pelajaran dan hikmah,” ungkap Meidina.
Meidina menyampaikan apresiasi dan permohonan maaf atas nama seluruh mahasiswa KKN IIQ An Nur Yogyakarta kepada masyarakat Bulurejo dan Bendung atas penerimaan, ketulusan, kehangatan, antusiasme, serta fasilitas yang telah diberikan selama pelaksanaan KKN. Ia juga memohon maaf apabila selama 40 hari pengabdian terdapat kesalahan dan kekhilafan yang dilakukan oleh mahasiswa KKN, baik dalam bentuk tutur kata, perbuatan, tindakan, atau dalam bentuk lainnya yang tidak berkenan di hati warga. Ia juga berharap, program-program yang telah dibangun oleh mahasiswa KKN dapat dilanjutkan oleh generasi muda Kalurahan Bulurejo dan Bendung.
“Semoga program-program KKN yang kami tinggalkan dapat terus memberi manfaat dan dilanjutkan oleh masyarakat, terutama para generasi muda. Dan, pelajaran dan hikmah yang kami peroleh selama 40 hari di sini semoga menjadi bekal berharga bagi kami ketika kelak kembali mengabdi di tengah masyarakat kami masing-masing,” pungkas Meidina. [MAF].